Liesnaeka's Blog

Steak dan Gaya Hidup

Posted on: Juni 22, 2009

Di era komunikasi global ini, beragam informasi masakan masuk ke Indonesia sebagai trend baru gaya hidup. Tidak terkecuali steak. Orang-orang muda terutama pelajar dan mahasiswa banyak mengkonsumsi makanan ini, sehingga Jogja yang merupakan kota pelajar merupakan pemicu tumbuhnya warung steak yang saat ini sudah banyak dijumpai di kota Gudeg ini.

Steak merupakan bagian dari sajian pesta babeque dengan menu daging atau ikan yang dipanggang di atas api. Tidak banyak yang tahu bahwa secara istilah, steak adalah sayatan daging dalam ukuran tebal. Kata itu mengacu pada sayatan daging di bagian tubuh tertentu., seperti sayatan pada tenderloin atau sirloin. Meskipun daging kambing dan daging lainnya dapat pula disteak, tetapi dia Amerika dan di Eropa steak hanya untuk daging sapi. Sehingga, sering dikonotasikan bahwa steak hanya untuk daging sapi.

Pada tahun 1990an, di Jogja steak hanya bisa dijumpai di hotel-hotel berbintang lima sebagai menu utama turis yang kurang cocok dengan menu masakan Indonesia. Namun sekarang, dibeberapa ruas jalan utama di Jogja, mudah ditemui warung-warung steak dengan spanduk besar dan mencolok. Tentu saja, makanan yang mencerminkan gaya hidup barat ini ditawarkan dengan harga relatif terjangkau. Saat ini steak tidak hanya dengan daging sapi, namun warung-warung steak menghadirkan steak dalam beragam variasi, mulai dari steak ikan laut, steak ayam, steak babi bahkan steak bekicot sehingga dengan beragamnya variasi, eksistensi steak menjadi beragam.

Dengan keragaman menu-menu steak, tidak heran steak tumbuh subur karena harga yang terjangkau dan tanggapan masyarakat yang baik. Bisa terjadi, steak yang ditawarkan dengan harga yang murah itu bukan sirloin atau tenderloin asli, namun hanya empal sapi yang dimasak ala steak. Jika ini terjadi, toh masyarakat tidak peduli, bahkan kemungkinan malah tidak tahu.

Karena sajian ini merupakan sajian kelas atas, alhasil jika kemudian banyak orang muda menganggap steak sebagai makanan favorit yang ‘wajib’ dicoba. Anak-anak muda cenderung menganggap behwa dengan mengkonsumsi produk yang berasal dari barat, life style mereka dapat meningkat lebih tinggi. Boleh jadi gaya  hidup seperti itulah yang ingin mereka tiru. Dengan demikian, makanan steak diasumsikan identik dengan upaya meningkatkan ‘derajad sosial’ ke arah yang lebih tinggi.

Lepas dari itu semua, duduk di warung steak tentunya lebih bergengsi daripada di angkringan, ya, untuk sebagian orang, gengsi adalah segala-galanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

Kategori

Arsip

%d blogger menyukai ini: