Liesnaeka's Blog

Ibu Dewi Nugroho, Masuk Muri ‘Hanya’ Karena Sulaman

Posted on: Juni 22, 2009

Siang itu begitu terik, reporter Kuntum berhenti sejenak di sebuah Museum Batik dan Sulaman yang berlokasi di Jl. Sutomo 13 Yogyakarta. Didepan museum terlihat pohon jambu air yang sedang berbuah, hm… begitu menggugah selera. Ketika kami masuk, didepan kami langsung terlihat berbagai sulaman yang terdiri dari wajah-wajah tokoh nasional, pemandangan dan aneka rupa tentang perbatikan, kami disambut seorang penjaga museum dan seorang ibu yang sudah tua.

Ternyata pemilik Museum Batik adalah ibu yang sudah tua tersebut, nama beliau Ibu Dewi. Walau kini usianya 78 tahun, beliau masih terlihat begitu segar meski harus memakai krak untuk berjalan.

Deretan sulaman yang berjejer diatas dinding museum begitu menyerupai gambar aslinya, bahkan awalnya penulis mengira bahwa sulaman itu merupakan foto. “Semua sulaman yang ada disini adalah sulaman saya. Kegiatan menyulam saya lakukan sejak suami saya sakit stroke, kira-kira itu tahun,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, karena pekerjaan saya hanya menunggu suami, maka saya berinisiatif untuk menyulam. Ya, awalnya sih tidak beraturan, tapi karena sering berlatih, saya menjadi bisa. Sulaman itu saya namakan sulaman acak, karena saya tidak melaksanakan aturan menyulam,” tuturnya. Memang sulaman ibu Dewi terlihat acak, sehingga bagian rambut, wajah dan lainnya terlihat begitu asli.”Saya memakai banyak benang untuk menyulam, saya ingin menyerupai aslinya,”tutur ibunya.

Awal berdirinya museum batik dan sulaman tidak terlepas dari tangan besi Ibu Dewi. Ketika jaman penjajahan Belanda (Sekitar tahun 1800an), berdirilah sebuah perusahaan batik yang terletak di daerah Kauman. Perusahaan tersebut memproduksi kain batik alami yang pengerjaannya masih menggunakan canting. Setelah nenek tiada, perusahaan dialihkan ke orangtua Ibu Dewi. Perusahaan itu akhirnya tutup karena tidak bisa mengikuti perkembangan jaman. Waktu itu Ibu Dewi masih muda. Ibunya Dewi muda akhirnya menyerahkan semua peninggalan nenek untuk dirawat Dewi, karena dari ketujuh anaknya, hanya Dewilah yang dianggap paling bisa merawat batik-batik beserta peralatan-peralatan pembuat batik.

Dewi yang merasa diamanahi segera mengumpulkan barang-barang batik peninggalan neneknya yang kini sudah bececeran dimana-mana.”Kebanyakan batik berada ditangan saudara-saudara. Waktu itu kondisi batiknya mengenaskan, ada yang sampai dibuat lap, padahal nilainya berharga. Jika ada barang-barang nenek segera saya minta, jika tidak terpaksa saya beli,” tutur Ibu Dewi yang terlihat masih energik di usianya yang lebih dari 2/3 abad.

Setelah semuanya terkumpul, mulai dari canting sampai batiknya, saya dibantu oleh suami segera merencanakan pembuatan museum. Tanggal 18 Mei ………. Museum ini berdiri. Lalu disusul dengan sulaman-sulaman saya,” ujarnya.

Ya, sampai saat ini beliau masih menyulam dan membatik,”Saya menyulam dan membatik jika ada mood, jika tidak, pasti sulaman dan batik tidak akan jadi dan kelihatan tidak bagus”.tuturnya. Walau dibeli dengan harga berapapun, sulamannya tidak akan dijual. “Saya sudah bersusah payah membuatnya, ada sulaman yang mencapai waktu 3 tahun untuk membuatnya, sehingga saya tidak rela jika sulaman tersebut harus dijual,”tuturnya. Tak heran jika kini sulaman Ibu Dewi begitu banyak dan membuat Muri menobatkan Museum Ibu Dewi menjadi Museum Sulaman satu-satunya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia.

Walau sudah tua, saat ini Ibu Dewi masih saja mengembangkan batik. Beliau mencoba berbagai tekhnik agar warna batik yang sintetis (berbahan kimia) dan yang alami bisa menyatu.”Saya ingin menyatukannya……………………. Sudah bermacam-macam cara saya lakukan. Tapi sampai sekarang belum berhasil. Doakan saja suatu saat bisa terwujud,” harapnya.

Selain membuka museum batik, Ibu Dewi juga kreatif. Rumah yang terletak di sebelah museumnya dijadikan ruang pertemuan yang disewakan, tak lupa dia juga membagi ilmu menyulam dan membatiknya dengan membuka kursus yang dibantu oleh rekan-rekan ibu Dewi. Kursus tersebut dibuka mulai dari TK sampai dewasa. Dengan membayar Rp. 25.000,- kita diajari mulai dari awal, bagaimana memegang canting sampai mewarnai batik. Puas deh, hehe…

Oke, bagi yang ingin mengetahui lebih dalam tentang batik, silakan datang ke museum. Dengan membayar uang Rp. 15.000, pembaca bisa menikmati batik-batik yang sudah berumur ratusan tahun yang lalu beserta alat, dan nilai plusnya nih, pembaca bisa mendapatkan banyak penjelasan oleh petugas museumnya.

Atau bila ingin bertemu langsung dengan Ibu Dewi untuk sekedar berbagi informasi, silakan datang ke Museum, pasti Ibu Dewi menerima dengan tangan terbuka. Mari menyulam dan membatik…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

Kategori

Arsip

%d blogger menyukai ini: