Liesnaeka's Blog

BAB I

PENDAHULUAN

Anatomi adalah ilmu yang mempelajari bentuk dan struktur semua organisme makhluk hidup. Sedangkan histologi berasal dari kata histon, yang artinya kumpulan beberapa sel yang mempunyai satu atau lebih kekhususan fungsi yang membentuk jaringan. Jadi histologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jaringan tubuh.

Praktikum Anatomi dan Histologi ini  diadakan untuk menunjang mata kuliah Anatomi dan Histologi. Adanya praktikum ini dapat menjadikan mahasiswa mengetahui anatomi dan histologi hewan ternak secara nyata. Kegiatan yang dilakukan dalam praktikum Anatomi dan Histologi ini terdiri dari pengamatan kerangka dan otot pada ayam, pengamatan kerangka dan otot pada domba, dan pengamatan jaringan kulit, jaringan ikat, jaringan usus halus, jaringan otot, dan jaringan tulang. Pengetahuan tentang anatomi dan histologi dapat menjadikan mahasiswa mengetahui dan mengerti bentuk dan struktur semua organisme serta jaringan tubuh.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Anatomi Ayam

Kerangka ayam

Ayam memiliki tulang yang kuat dengan susunan partikel yang padat dan timbangan berat yang ringan. Timbangan yang ringan tetapi berat ini memungkinkan bangsa burung memiliki kemampuan untuk terbang atau berenang bagi unggas air. Tulang punggung di daerah leher dan otot dapat digerakkan. Tulang punggung tersebut membentuk suatu susunan kaku yang memberikan kekuatan terhadap tubuh yang cukup kuat untuk menopang gerakan dan aktivitas sayap (Akoso, 1993).

Tulang-tulang hampir semua jenis unggas adalah bersifat pneumatik (berongga). Ruang berongga ini berhubungan dengan sistem pernafasan yang memungkinkan seekor burung dengan satu sayap yang patah untuk bernafas melalui sayap. Hal ini merupakan suatu fenomena yang telah diperhatikan sejak lama pada burung-burung yang luka oleh para pemburu. Dua belas persen struktur tulang pada ayam adalah tipe tulang meduler yang unik. Ini merupakan suatu jaringan tulang yang kecil sekali yang mengikat struktur berongga bersama-sama dengan sumsum tulang dan bagi unggas liar berguna sebagai suatu substansi untuk pembentukan telur bila kadar kalsium dalam pakannya rendah (Blakely and Bade, 1991).

Tulang mengandung sel-sel hidup dan matrik intraseluler yang diliputi garam mineral. Kalsium fosfat menyusun sekitar 80% bahan mineral dan sisanya sebagian besar terdiri dari kalsium karbonat dan magnesium fosfat (Frandson, 1992).

Rongga sunsum tulang ayam betina selama masa bertelur disusupi oleh sistem tulang sunsum yang terdiri atas kalsium tulang. Bagian ini mengisi ruang sunsum dengan anyaman tulang yang lembut kecil dan berfungsi untuk membentuk kulit telur bila kalsium yang tersedia dalam pakan rendah. Tulang sunsum ini terdapat pada ayam betina yang secara fisiologis normal, tetapi tidak terdapat pada ayam jantan (Akoso, 1993).

Sunsum tulang terdapat dalam tulang kering, tulang paha, tulang pinggul, tulang dada, tulang iga, tulang hasta, tulang belikat dan kuku. Anak ayam sewaktu tumbuh dewasa, yakni sekitar 10 hari menjelang pembentukan telur yang pertama, mulai menampung tulang sunsum. Pada ayam liar, tulang-tulang ini menghasilkan kalsium yang cukup untuk membentuk kerabang bila kadar kalsium yang dimakan selama bertelur rendah (Akoso, 1993).

Timbunan kalsium tulang ayam betina piaraan hanya dapat mencukupi pembentukan beberapa kerabang telur. Apabila kandungan kalsium rendah, maka setelah ayam bertelur kurang lebih 6 butir, akan kehilangan sekitar 40% dari total kalsium tulang (Akoso, 1993).

Perototan ayam

Otot adalah jaringan yang mempunyai struktur dan mempunyai fungsi utama sebagai penggerak. Ciri suatu otot mempunyai hubungan yang erat dengan fungsinya. Karena fungsinya, maka jumlah jaringan ikat berbeda diantara otot. Jaringan ikat ini berhubungan dengan kealotan daging. Otot-otot yang berasosiasi dengan tulang yaitu otot-otot yang berhubungan dengan tulang, sering disebut otot skeletal (Soeparno, 1994).

Jaringan otot ayam merupakan satu kesatuan kelompok organ yang bertindak selaku anggota gerak. Ada 3 macam otot dasar, yaitu otot polos, otot jantung, dan otot rangka. Otot polos dijumpai di dalam pembuluh darah, usus, dan organ lain yang tidak berada di bawah perintah otak. Otot rangka melekat pada tulang dan bertanggung jawab terhadap gerak yang berada di bawah perintah seperti otot dada, paha, dan kaki.

Otot skeletal adalah yang paling penting bagi ternak unggas meskipun terdapat otot polos pada usus dan otot kardiak pada jantung. Dada merupakan otot skeletal terbesar karena dibutuhkan untuk terbang, misalnya pada bangsa ayam liar. Otot ini telah dikembangkan secara genetis oleh para ahli pemuliaan spesies-spesies domestik. Ayam memiliki otot merah dan putih, yang dapat disamakan dengan daging gelap dan terang. Perbedaan ini disebabkan kandungan myoglobin pada otot merah. Myoglobin adalah pigmen merah yang membawa oksigen pada otot ayam (Blakely and Bade, 1991).

Musculus pectoralis major berfungsi untuk menutup sayap, berorigo pada carnia sterni dan berinsertio pada facies ventralis humeri. Musculus pectoralis minor baru tampak bila musculus pectoralis major diangkat. Musculus ini berorigo pada carnia sterni, kemudian masuk ke dalam foramen triosseum yang berinsertio pada facies dorsalis humeri. Fungsinya adalah untuk menurunkan sayap (Radiopoetra, 1991).

Sesaat setelah mati, otot mengalami proses patologis yang disebut rigormortis. Dalam keadaan ini, otot berubah menjadi kaku karena kenaikan tegangan otot sehingga kehilangan elastisitas atau disebut juga kaku bangkai. Kaku bangkai ini dimulai dari tubuh bagian depan melanjut ke belakang dan biasanya hilang dengan urutan yang sama (Akoso, 1993).

Jaringan

Jaringan otot. Jaringan otot secara langsung mampu menghasilkan gerakan. Sel-sel jaringan lain dapat pula bergerak, tetapi gerakannya kurang terintegrasi. Hanya kumpulan sel-sel yang mampu menciptakan gerakan kuat melalui progres kontraksi dengan gerakan searah dilaksanakan oleh otot (Dellmann and Brown, 1989).

Sel-sel khusus jaringan otot memiliki bangun khusus yang dikaitkan dengan aktivitas kontraksi. Bentuknya memanjang seperti kincir, membentuk serabut. Berdasarkan bentuk serta bangunnya, sel otot disebut serabut otot (myofibers) (Dellmann and Brown, 1989). Serabut otot ada tiga bentuk dasar, yaitu otot polos yang merupakan bagian kontraktil dinding alat jeroan, otot kerangka yang melekat pada tubuh, beroriginasi dan insersio pada bungkul tulang dan otot jantung yang merupakan dinding jantung (Dellmann and Brown, 1989). Tiga macam jaringan otot pada mamalia dapat dibedakan menurut susunan (structure), inervasi dan kontrol, fungsinya (Kustono, 1997).

Otot kerangka adalah otot yang melekat pada rangka (skeleton). Otot ini terdapat paling banyak, yaitu sekitar 40% total berat badan. Otot ini bekerja secara sadar atau dibawah kontrol syaraf (voluntary). Otot kerangka kadang disebut otot bergaris-garis (striated muscle) karena terlihat bagian-bagian yang gelap dan terang (perbedaan indeks bias dari berbagai bagian serabut otot). Bila dilihat dengan mikroskop akan terlihat garis-garis berselang (cross striated) (Kustono, 1997).

Serabut otot kerangka yang ekstra panjang, panjangnya dapat mencapai seluruh panjang otot dengan diameter 10 – 120 μm. Serabut yang panjang ini berasal dari gabungan dari sel-sel mononuklear (myoblast) ke dalam satu serabut. Jadi satu serabut tampak memiliki banyak inti yang mengambil posisi di tepi dengan letak subsarkolema pada mamalia (Dellmann and Brown, 1989).

Otot polos (smooth muscle) memiliki bentuk serabut seperti kincir atau gelendong (spindle), berdiameter tidak lebih dari 10 μm. Panjangnya bervariasi antara 20 – 500 μm, tergantung pada organ yang memilikinya. Posisi inti sentral dan tidak tampak garis-garis melintang. Semua serabut otot membentuk berkas dan terikat ketat oleh jalinan serabut elastik dan retikuler antara tiap serabut otot polos (Dellmann and Brown, 1989).

Otot polos terdapat pada macam-macam organ mamalia, yaitu pada dinding pembuluh darah dan limfe, dinding saluran pencernaan, kencing, reproduksi, pernafasan, dinding perototan uterus dan lapisan dermal pada kulit. Pada ayam dan kalkun, gizzardnya hampir semua terdapat otot polos. Otot polos bekerja dibawah kontrol syaraf tak sadar (involuntary) (Kustono, 1997).

Otot jantung (cardiac muscle) hanya ditemukan pada jantung dan nampak sama dengan otot rangka bila dilihat dibawah mikroskop. Otot jantung bekerjanya tidak berada di bawah kontrol syaraf secara sadar (involuntary) (Kustono, 1997). Serabut otot jantung mempunyai susunan khusus untuk memenuhi fungsinya sebagai pompa jantung. Otot ini berbentuk silinder, bergaris melintang mirip otot kerangka, tetapi berbentuk sebagai sel-sel yang bercabang yang saling mengadakan anastomose dan bukan berbentuk sinsisium. Inti tunggal lazimnya terletak di tengah serabut otot (Dellmann and Brown, 1989).

Komponen sel otot terdiri dari sel membran bagian luar (sarkolema), mitokondria, apparatus golgi, endoplasmik retikulum, peroxisomes, lysosomes dan ribosomes (seperti pada sel-sel lain). Myofibrils adalah organela di dalam serabut otot yang mempunyai fungsi spesial untuk berkontraksi. Myofibrils ini berupa benang-benang protein yang memanjang. Otot kerangka bagian dalamnya ditempati oleh ± 80 – 87% myofibril (50% pada otot jantung). Otot mengandung protein miosin, aktin, tropomiosin dan troponin. Troponin terdiri dari sub unit I, T dan C (Kustono, 1997).

Jaringan tulang. Tulang tergolong jaringan ikat yang memiliki sel dan serabut, terkurung dalam bahan yang keras, sehingga cocok dengan fungsinya sebagai penunjang serta pelindung. Tulang merupakan kerangka tubuh serta merupakan pertautan otot serta tendon yang merupakan alat gerak. Tulang melindungi otak dan alat tubuh yang penting dalam rongga dada, juga merupakan tempat bagi sumsum tulang. Tulang dianggap sebagai gudang garam kalsium yang melalui metabolisme mempertahankan kadar kalsium dalam plasma darah (Dellmann and Brown, 1989).

Lamel tulang ada tiga jenis, yaitu lamel khusus (concentric lamellae) yang mengitari saluran Haver yang membentuk osteon (haversian system); lamel interstisial (interstitial lamellae) yang mengisi ruang antara osteon satu dengan yang lain, dan lamel umum (circumferential lamellae) yang membalut tulang, langsung di bawah periosteum (lamel umum luar), dan di bawah endosteum (lamel umum dalam). Garis pemisah (cement line) jelas terdapat antara komponen osteon dengan bahan interstisial. Garis ini tampak tidak teratur bila tulang mengalami proses perombakan yang disebut garis balik (reversal lines). Bagian yang memiliki garis bentuk halus disebut garis tahan (arrest lines) sebagai akibat pertumbuhan tulang yang terjadi setelah periode selang (interruption period) (Dellmann and Brown, 1989).

Permukaan luar serta dalam pada substansi padat pada hewan dewasa terdiri dari lamel tulang konsentris yang mengitari tubuh tulang. Bagian ini disebut lamel umum luar dan lamel umum dalam. Lamel-lamel tampak sebagai jalinan pita yang tersusun paralel terhadap sumbu tulang pada penampang tulang memanjang (Dellmann and Brown, 1989).

Osteon tersusun dengan pola longitudinal mengitari saluran Haver (central canals) yang berisi pembuluh darah, pembuluh limfe dan saraf tanpa selubung mielin yang ditunjang oleh jaringan ikat. Saluran Haver saling berhubungan melalui saluran Volkman (perforating canals) secara horizontal atau transversal. Saluran Haver digambarkan sebagai saluran vertikal atau tegak lurus dan saluran Volkman sebagai saluran horizontal. Osteon dikenal dapat bercabang dan beranastomose dengan osteon lain membentuk konfigurasi tiga dimensi, sehingga saluran Haver (central canals) dapat terpancang miring, beraspek seperti saluran Volkman (perforating canals). Saluran Haver selalu dikitari oleh lamel khusus sedangkan saluran Volkman tidak (Dellmann and Brown, 1989).

Tulang umumnya dibalut jaringan ikat kuat yang disebut periosteum dan terdiri dari dua lapis, yaitu lapis dalam atau lapis osteogenik yang menumbuhkan sel-sel pembentuk tulang; lapis luar atau lapis fibrosa terdiri dari jalinan serabut kolagen dengan pembuluh darah. Pembuluh darah bercabang-cabang dan masuk melalui saluran penembus (perforating canals) mencapai osteon. Lapis osteogenik pada hewan muda lebih banyak mengandung sel-sel daripada yang tua. Pertautan periosteum pada tulang cukup kuat melalui serabut kolagen yang menyusup ke dalam lamel umum luar dan lamel interstisial tulang. Serabut penembus ini menyatu dengan matriks dengan membentuk lamel permukaan (Dellmann and Brown, 1989).

Jaringan ikat. Secara embriologis, jaringan ikat berasal dari mesoderm, meskipun ektoderm daerah kepala ikut membentuk jaringan ikat. Jaringan ikat embrionik disebut mesenkim (mesenchyme), berkembang dari somit mesoderm somatik dan splanknik. Berdasarkan perkembangannya, jaringan ikat dibagi dalam dua kelompok besar dan beberapa subkelompok. Semua bentuk jaringan ikat (penghubung dan penunjang) memiliki tiga unsur pokok, yakni sel-sel, serabut, dan matriks atau bahan dasar, yang secara proporsional berbeda untuk tiap jenis, tetapi pada mesenkim belum tampak adanya serabut (Dellmann and Brown, 1989).

Jaringan ikat dibagi menjadi dua, yaitu jaringan ikat embrionik dan jaringan ikat dewasa. Jaringan ikat embrionik terdiri dari mesenkim dan jaringan ikat gelatin. Jaringan ikat dewasa terbagi menjadi jaringan penghubung dewasa dan jaringan penunjang dewasa. Jaringan penghubung dewasa terbagi menjadi jaringan ikat longgar, jaringan ikat pekat tidak teratur, jaringan ikat teratur yang terdiri dari kolagen dan elastik, jaringan ikat retikuler dan jaringan lemak yang terdiri dari jaringan lemak putih dan jaringan lemak coklat. Jaringan penunjang dewasa terbagi menjadi tulang rawan yang terdiri dari tulang rawan hialin, tulang rawan elastik dan tulang rawan fibrosa, tulang, notokord, somentum dan dentin (Dellmann and Brown, 1989).

Ada tiga macam serabut jaringan ikat, yaitu serabut kolagen, serabut retikuler, dan serabut elastik. Jaringan ikat dari hewan dewasa paling banyak terdapat dalam bentuk jaringan ikat longgar yang tidak teratur atau areolar (Dellmann and Brown, 1989). Sel-sel jaringan ikat dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu sel tetap dan sel pengembara. Sel tetap meliputi fibroblast, sel-sel mesencim dan sel-sel adipose khusus. Sel-sel pengembara meliputi eosinofil, sel plasma, sel mast, sel limfe dan makrofag bebas. Substansi dasar dan serabut ekstraseluler diproduksi oleh fibroblast (Soeparno, 1994).

Menurut Swatland (1984) dalam Soeparno (1994), serabut-serabut kolagen pada jaringan ikat mempunyai diameter antara 1 – 12 µm, sedangkan ikatan-ikatan paralel fibril penyusun serabut kolagen tersebut berdiameter antara 20 – 100 nm. Kolagen merupakan protein yang paling luas terdapat dalam tubuh hewan, meliputi 20 – 25 % dari total protein tubuh mamalia. Kolagen merupakan protein struktursl pokok pada jaringan ikat, dan mempunyai pengaruh besar terhadap kealotan daging. Jumlah dan kekuatan kolagen meningkat sesuai dengan umur (Soeparno, 1994).

Jaringan pada sistema digestiva. Sistem digesti berfungsi sebagai saluran pencernaan (Kustono, 1997). Usus halus tersusun dari epitel silindris sebaris. Epitel silindris sebaris terdiri dari sebaris sel-sel berbentuk silinder, berdiri pada membran basal. Pada penampang melintang selnya tinggi, inti lonjong terletak agak basal dengan sumbu tegak lurus terhadap membran basal, penampang atas tampak poligonal. Tipe epitel ini juga membalut lambung kelenjar (Dellmann and Brown, 1989).

Jaringan epitel ada yang berfungsi sebagai kelenjar dalam arti mempu menghasilkan sekreta. Sebagian besar organ tubuh bagian dalam berisi kelenjar dalam satu atau bentuk lain dan hasil pemisahan itu mungkin didistribusikan secara luas. Kelenjar dapat bersifat endokrin atau eksokrin (Dellmann and Brown, 1989).

Jaringan kulit. Jaringan kulit merupakan jenis jaringan epitel. Jaringan epitel terdiri dari sel-sel sejenis yang membalut permukaan luar dan dalam organ tubuh yang berbentuk saluran atau rongga. Selain itu juga membalut permukaan tubuh. Sel-sel epitel mampu berproliferasi menumbuhkan kelenjar folikel rambut (Dellmann and Brown, 1989).

Secara embriologis, ketiga daun kecambah berperan dalam menumbuhkan berbagai bentuk epitel, misalnya : ektoderm menumbuhkan epitel permukaan tubuh dan derivatnya, entoderm menumbuhkan epitel saluran pencernaan dan pernapasan, dan mesoderm menumbuhkan epitel saluran kardiovaskular, saluran urogenital, dan rongga tubuh yang tidak berhubungan dengan dunia luar, misalnya rongga dada dan rongga perut. Jaringan epitel dengan ciri khasnya mampu melaksanakan beberapa fungsi tertentu, misalnya sebagai pelindung, penyerap, sekresi dan ekskresi, reseptor rangsangan dan membentuk barier untuk proses permeabilitas selektif (Dellmann and Brown, 1989).

Klasifikasi jaringan epitel berdasarkan pada bentuk sel-sel dan jumlah lapisannya, misalnya : epitel selapis yang terdiri dari satu lapis sel di atas membran basal dan epitel banyak lapis yang terdiri dari dua atau lebih lapis sel di atas membran basal. Penamaan epitel banyak lapis lazimnya didasarkan pada bentuk sel-sel permukaan tanpa memandang bentuk sel yang terdapat di bawahnya. Epitel pipih banyak lapis lazimnya terdapat tiga sampai lima lapis sel. Lapisan ini terdiri dari stratum basale, stratum spinosum, stratum germinativum, stratum lucidum dan stratum corneum (Dellmann and Brown, 1989).

Anatomi Domba

Kerangka domba

Tengkorak (kranin). Bagian skeleton yang membentuk kerangka dasar kepala disebut kranium. Fungsi tengkorak yaitu sebagai pelindung otak, penyokong berbagai organ dan membentuk awal saluran sistema digestoria dan sistema respiratoria. Tengkorak terdiri dari nasal, mandibula, maksila, lakrima, coranoid process dan occipital. Atap bagian atas dibentuk oleh maksila dan premaksila, yang membentuk dentis dan oleh as palatina. Bagian ventrolateral, oral dilengkapi oleh mandibula. Mandibula berporos pada bagian as temporale, di depan lubang telinga. Semua dentis bagian bawah pada mandibula merupakan tempat perekatan otot yang berperan dalam proses pengunyahan dan penelanan (Frandson, 1992).

Ujung medial skapula bersendi dengan manubrium. Ujung lateral clavicula bersendi dengan acromion. Acromion adalah sudut di sebelah caudal dan dua sudut di sebelah cranial pada sudut cranial lateral dataran sendi, yang bersendi dengan humerus (Radiopoetro, 1991).

Vertebrae cervicalis yang pertama disebut atlas. Atlas tidak mempunyai processus spinous dan carpus menjadi satu dengan aksis, penggunaan seperti gigi. Vertebralis cervicalis yang kedua disebut aksis. Aksis mempunyai spinosum processus yang lebar, tetapi tidak tinggi (Frandson, 1992). Vertebrae thoracales, costae dan sternum membentuk thorax. Sternum terdiri atas manubrium sterni, carpus dan processus xipoideus (Radiopoetro, 1991). Vertebrae thoracalis ditandai dengan processus spinous yang sangat berkembang. Processus spinous membentuk pangkal pada prominesia dorsalia yang dikenal sebagai “wither” pada bagian bawah bahu (Frandson, 1992).

Humerus, ulna, radius, ossa metacarpallia dan palanges merupakan tulang panjang, sedangkan tulang assa carpallia merupakan tulang pendek. Ujung proximal humerus yang berbentuk bulat bersendi dengan ulna. Ada dua dataran sendi pada ujung distal humerus, yang satu merupakan bulatan dan yang lain menyerupai roda korekan yang merupakan satu kesatuan. Dataran sendi yang berupa bulatan, bersendi dengan ujung proximal radius, sedangkan yang menyerupai roda korekan bersendi dengan ujung proximal ulna. Radius dapat diputar sehingga dapat saling disilangkan. Gerakan ini disebut pronasi. Gerakan pemutaran kembali sehingga radius dan ulna terletak sejajar disebut ordonansi (Radiopoetro, 1991).

Ulna mempunyai tingkat perkembangan yang bervariasi tergantung pada spesies hewan. Processus olecanon terdapat pada semua hewan, menonjol di atas dan di bawah persendian siku. Processus tersebut membentuk sebuah pengungkit untuk perlekatan otot yang berfungsi meluruskan otot siku (Frandson, 1992).

Pada semua mamalia, karpus merupakan daerah yang komplek yang terdiri dari dua deret tulang kecil. Deretan proximal disebut radial (profundial ke lateral), intermediet dan ulnar. Metakarpus merupakan daerah disebelah distal karpus. Pada sapi dan domba, karpus merupakan hasil tulang metakarpus yang ke tiga dan ke empat. Suatu alur vertikal pada metakarpus menunjukkan fusi kedua tulang tersebut (Frandson, 1992).

Ujung proximal femur yang berbentuk bulat bersendi dengan os coxae. Ujung distal femur bersendi dengan ujung proximal tibia. Daerah ventral ujung kedua tulang yang bertemu ini terdapat patella. Ujung proximal fibula bersendi dengan ujung proximal tibia. Distal fibula menempel pada ujung distal tibia. Kedua ujung distal ini merupakan persendian dengan trchlea tali. Trchlea tali ialah bangunan berupa kerekan pada talus. Talus ialah salah satu dari ossa tarsalia. Ossa tarsalia bersendi satu dengan yang lain. Ossa tarsalia terdiri atas talus, proteulus, os cuboideum, os naviculare (os scapoideum) dan tiga ossa cuneiforinia. Talus bersendi dengan calcaneus dan raviculare calcaneus bersendi juga dengan os cuboideum. Os raviculare bersendi juga dengan ketiga ossa coneiformia. Os cuboideum juga ossa cuneiformia di ujung distal bersendi dengan ujung proximal 5 ossa metatarsalia. Di sebelah os metatarsalia berturut-turut terdapat dua palanges. Di sebelah os metatarsale yang lain berturut-turut terdapat tiga palanges. Waktu berdiri, yang menapak tanah ialah tuber calcanei (tonjolan ke planter pada calcaneus) dan capita osseum metatarsalium (distal ossa metatarsalia). Pada kaki ada lengkung longitudinal dan lengkung transversal. Jari pertama kaki tidak dapat disisikan (Radiopoetro, 1991).

Profundingulum membri inferiotis terdiri atas sepasang os coxae. Satu os coxae ialah hasil tumbuh melekatnya tulang, yaitu os illium, os ischii dan os pubis. Sepasang os coxae ini bersama dengan os sacru merupakan pelvis. Antara kedua os coxae di sebelah ventral disebut symphysis ossium pubis. Pelvis ini kira-kira membentuk sesuatu yang pada dasarnya ada lubang pada os coxae pada suatu cekung pada tempat tumbuh melekatnya ketiga tulang ujung proximal femur. Di daerah sacral ada 5 vertebrae sacrales yang telah saling tumbuh melekat sehingga terjadi satu tulang, yaitu os sacrum daerah cocigleal dimana ada 3 vertebrae cocygleales yang telah mengalami reduksi dan kadang tumbuh melekat sehingga occygis (Radiopoetro, 1991).

Perototan domba

Otot adalah jaringan yang mempunyai struktur dan mempunyai fungsi utama sebagai penggerak. Ciri suatu otot mempunyai hubungan yang erat dengan fungsinya. Karena fungsinya, maka jumlah jaringan ikat berbeda diantara otot. Otot-otot yang berasosiasi dengan tulang yaitu otot-otot yang berhubungan dengan tulang, sering disebut otot skeletal. Otot skeletal merupakan sumber utama dari jaringan otot daging (Soeparno, 1994).

Di dalam tubuh hewan, termasuk domba, menurut Forrest et al. (1975) dan Lawrie (1979) dalam Lawrie (1995), terdapat lebih dari 600 otot yang berbeda dalam hal bentuk, ukuran, dan aktivitasnya. Otot juga berbeda dalam hal hubungannya dengan tulang, tulang rawan atau ligamentum, dalam hal kandungan darah dan saraf dan dalam hal hubungannya dengan jaringan-jaringan lain.

Otot hewan berubah menjadi daging setelah pemotongan karena fungsi fisiologisnya telah berhenti. Otot merupakan komponen utama penyusun daging. Daging juga tersusun oleh jaringan ikat, epitelial, jaringan saraf, pembuluh darah dan lemak. Jadi daging tidak sama dengan otot (Soeparno, 1994).

Beberapa jenis otot pada hewan, termasuk domba, antara lain adalah :

Otot trapezius. Otot trapezius merupakan otot pipih berbentuk segitiga yang mempunyai origo pada garis tengah dorsal dari kepala sampai ke belakang di daerah vertebrae lumbar dan insersionya terutama pada spina skapula. Otot trapezius secara keseluruhan juga mendukung melekatnya skapula pada tubuh (Frandson, 1992).

Otot serratus ventralis. Otot serratus ventralis merupakan otot yang paling besar dan otot utama yang menghubungkan alat gerak bagian depan dengan tubuh. Ukuran otot ini besar dan bentuknya seperti kipas (Frandson, 1992).

Otot lattisimus dorsi. Otot lattisimus dorsi merupakan otot yang berbentuk segitiga lebar, mempunyai origo pada prosessus spinosa vertebra torasik dan lumbar dengan perantaraan aponeurosis. Otot ini juga berperan untuk menarik kaki depan ke arah belakang atau jika kaki itu tetap, maka badan itu akan ke depan atau maju (Frandson, 1992).

Otot longissimus. Otot ini dapat dibagi menjadi beberapa segmen tergantung pada lokasi, yaitu di daerah lumbar yang disebut longissimus lumborum, pada daerah thoraks disebut longissimus thoracis, pada daerah serviks disebut longissimus cervicis, longissimus capitis, longissimus atlantis (Frandson, 1992).

Otot ekstensor carpii radialis. Otot ini merupakan otot ekstensor terbesar untuk karpus. Otot ini berpangkal pada epikondyl lateral humerus menuju ujung proximal daerah metacarpal. Peran utama otot ini adalah gerak estensi karpus (Frandson, 1992).

Otot fleksor carpii radialis. Otot ini berpangkal dari sisi medial permukaan volar kaki depan. Origo otot ini adalah pada epikondyl medial (fleksor) humerus dan insersianya pada permukaan volar ujung proksimal metacarpus (Frandson, 1992).

Otot gluteus medius. Otot ini adalah otot ekstensor yang kuat. Origo otot ini terletak pada sayap tulang illium dan insersionya pada frokauter mayor dari tulang femur, yang merupakan lever yang menjulur di atas sendi pinggul, sehingga menggerakkan bagian lain dari kaki belakang ke arah belakang (Frandson, 1992).

Otot bisep femoris, semitendinosus, dan semimembranosus. Otot-otot tersebut merupakan otot ekstensor pada pinggul yang disebut dengan hamstring muscle. Batas-batas antar otot ini dapat diketahui dengan adanya alur-alur vertikal pada bagian otot tersebut (Frandson, 1992).

BAB III

MATERI DAN METODE

Materi

Materi yang digunakan dalam praktikum ini adalah ayam kampung  yang sudah dipotong dan dihilangkan bulunya 1 ekor, domba yang telah dipotong dan dikuliti 1 ekor, pisau, nampan, air cuka 5%, panci, oven dengan suhu 80 ºC, vernis, lem dan kawat.

Metode

Pengamatan otot ayam. Ayam kampung yang sudah dipotong dan dihilangkan bulunya diamati bagian-bagian ototnya sesuai dengan letaknya. Kemudian rongga dada ayam dibuka dengan membuka irisan dari kloaka ke arah tulang dada untuk melihat otot bagian dalam. Setelah itu otot-otot tersebut digambar.

Perebusan ayam. Ayam yang telah diamati tersebut dikeluarkan kloaka dan visera atau jerohannya. Kemudian dilakukan pemisahan organ-organ yaitu hati dan empedu serta jantung. Isi empedu dikeluarkan dan empedu dipisahkan dari hati lalu dibuang. Paru-paru dipisahkan dari bawah columna vertebralis dan daging dihilangkan dari tubuh ayam sehingga tinggal tulangnya saja. Ayam kemudian direbus dalam larutan cuka dengan perbandingan air dengan cuka 4 : 1. Setelah itu ayam dioven dengan suhu 80 °C selama 24 jam.

Pengamatan kerangka. Ayam yang telah dioven diambil lalu dirangkai dengan menggunakan kawat. Bagian yang terputus disambung dengan menggunakan lem. Kemudian ayam divernis lalu diamati bagian-bagian tulangnya. Setelah itu kerangka ayam digambar.

Pengamatan jaringan. Jaringan yang diamati adalah jaringan kulit, jaringan ikat, jaringan tulang, jaringan usus halus dan jaringan otot. Jaringan-jaringan tersebut diamati dengan mikroskop dengan perbesaran yang sesuai kemudian digambar.

Pengamatan otot domba. Domba yang telah dipotong dan dihilangkan bulunya diamati bagian-bagian ototnya. Setelah itu otot-otot tersebut digambar sesuai dengan letaknya.

Pengamatan kerangka domba. Kerangka domba yang sudah disiapkan diamati bagian-bagian dan nama-nama tulangnya. Setelah itu kerangka domba tersebut digambar.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Kerangka ayam

Kerangka ayam yang diamati bagian-bagiannya terdiri dari mandible, incisive, nasal, lacrimal, quadrate, occipital, atlas, epistropheus, humerus, ulna, radius, metacarpus, phalanges, clavicle, coracoid, scapula, sternum, illium, ischium, pubis, pygostyle, femur, patella, fibula, tibia dan metatarsus.

Perototan ayam

Bagian-bagian perototan ayam terdiri dari pectoralis superficialis, biceps brachii, extensor dan flexor carpii radialis, biceps femoris, gastrocnemius, tibialis cranialis, tendo-tendo extensor, tendo-tendo flexor, otot-otot cervical, obliqus abdominis externus dan gluteus superficialis.

Jaringan

Jaringan otot. Bagian-bagian jaringan otot yang diamati terdiri dari jaringan ikat, endomisium, serabut otot dan epimisium. Pengamatan jaringan otot dilakukan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 10 kali.

Jaringan tulang. Bagian-bagian jaringan tulang yang diamati terdiri dari lacuna, intermediate system dan lamela. Pengamatan jaringan tulang dilakukan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 20 kali.

Jaringan ikat. Bagian-bagian jaringan ikat yang diamati terdiri dari fibroblast, serabut kolagen dan serabut elastin. Pengamatan jaringan ikat ini dilakukan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 20 kali.

Jaringan pada sistema digestiva. Bagian-bagian jaringan yang diamati pada sistema digestiva terdiri dari villi/jonjot, sel gobelet, lamina propria, lamina muscularis mucosae dan muscullar layer. Muscullar layer terdiri dari bagian inner dan outer. Pengamatan jaringan ini dilakukan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 20 kali.

Jaringan kulit. Bagian-bagian jaringan yang diamati terdiri dari papilla dermal, stratum corneum, stratum lucidum, stratum granulosum, stratum spinosum dan stratum germinativum. Pengamatan jaringan ini dilakukan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 20 kali.

Kerangka domba

Bagian-bagian kerangka domba yang diamati terdiri dari nasal, mandible, maxilla, lacrima, coronoid process, occipital, atlas, axis, scapula, sternum, humerus, stifle join, olecanon processus, radius, ulna, carpus, metacarpus, phalanges, digiti, cartilage spinous process, spinous process, sternal, asternal, lumbar, transverse process, illium, ischium, pubis, femur, patella, tibia, tarsus, metatarsus, sacral dan cocygeal vertebrae.

Perototan domba

Bagian-bagian perototan domba yang diamati terdiri dari seperempat bagian depan dan seperempat bagian belakang. Seperempat bagian depan terdiri dari transverse process of cervical vertebrae, infra spinatus, supra spinatus, longissimus dorsi, triceps brachii, pectoralis, lattisimus dorsi, serratus ventralis, extensor carpii radialis, flexor carpii radialis dan flexor carpii ulnalis. Seperempat bagian belakang terdiri dari gluteus medius, flank, tensor vascialata, vastus lateralis, semitendinosus, semimembranosus, biceps femoris, tricep femoris, gastrocnemius, tendo arciles dan lateral condyle of tibia.

Pembahasan

Anatomi Ayam

Kerangka ayam. Ayam memiliki banyak macam tulang yang berongga (tulang pneumatik) yang berhubungan dengan sistem pernafasan. Macam-macam tulang pada ayam, seperti tengkorak, tulang lengan, tulang selangka, tulang pinggang dan tulang kemudi dengan tulang pernafasan (Akoso, 1993).

Kerangka unggas berbeda jauh dengan mamalia. Kerangka burung tidak hanya disesuaikan untuk terbang, tetapi burung dan mamalia memiliki hubungan kekerabatan yang jauh. Tengkorak mempunyai mata orbit yang sangat luas dan sebuah rongga tengkorak yang kecil. Leher yang panjang terdiri dari 14 tulang leher dan tulang atlas yang berbentuk seperti cincin. Enam tulang dada dapat bergerak dengan bebas, tetapi tulang dada yang terakhir disatukan pada synsacrum. Synsacrum adalah penyatuan panjang dari lajur tulang yang terdiri dari 7 tulang dada, 14 tulang lumbosacral, dan tulang tungging pertama. Mereka bebas dan bergerak meskipun tulang yang terakhir dibentuk dalam tiga sisi tulang piramida yang disebut pygostyle (Swatland, 1984).

Tulang rusuk ada 7, yang pertama dan kedua bebas sedangkan yang lima menempel pada sternum. Cortal cartilages pada ayam tidak ada. Tulang rusuk kedua sampai keenam masing-masing mempunyai sebuah proses palapasan yang saling melengkapi tulang rusuk berikutnya. Tulang dada sangat luas sekali, mempunyai sebuah punggung bukit yang sangat menyolok di tengah. Carina yang meningkat adalah daerah yang ada untuk pelengkap otot terbang. Permukaan belakang tulang dada yang berkembang adalah cekung, dan itu dibentuk oleh dasar tulang dada secara terus-menerus dan rongga perut (Swatland, 1984).

Tulang dari seperempat depan adalah perubahan besar untuk membentuk sayap. Daerah humerus adalah perluasan permukaan radius dan ulna. Carpal metacarpal dan jari tangan direduksi membentuk sebuah unit kerangka kaku untuk meninggalkan bulu-bulu terbang primer. Ada 3 jari tangan pada sayap yang setara dengan 2, 3, dan 4 pada hewan lain. Sayap bersambung dengan celah-celah rongga, yang diperkuat oleh persatuan tiga tulang yaitu scapula, coracoid, dan clavicle (Swatland, 1984).

Pada burung coracoid adalah sebuah tulang terpisah dimana pada mamalia mempunyai pengurang pada sebuah bagian kecil yang utuh dari scapula. Clavicle kanan dan kiri adalah penyatuan untuk membentuk furcula dan wishbone. Clavicle tidak terdapat pada hewan ternak, biri-biri dan babi meskipun banyak mamalia mempunyai sepasang clavicle. Fungsi clavicle adalah sebagai topangan tulang sendi bahu pada hewan yang mempunyai gerakan lengkap dari tulang sendi bahu (Swatland, 1984).

Sejak hewan ternak, biri-biri dan babi mempunyai tungkai depan dengan sebuah gerakan depan yang terbatas dan perpindahan bagian belakang, mereka tidak membutuhkan clavicle. Daerah akhir dari coracoid pada unggas ditahan oleh sternum. Tubuh unggas pada saat terbang tergantung dari sayapnya pada tulang sendi bahu, karenanya lebih banyak sandaran rumit untuk rongga celah. Pada unggas, kaki menunjukkan banyak penyesuaian diri. Daerah femur, fibula diturunkan meninggalkan tulang tibia sebagai tulang mayor. Tulang proksimal tarsal disatukan dan berakhir pada tibia untuk menambah panjangnya dan pada sekeliling unit kerangka disebut tibia tarsus (Swatland, 1984).

Daerah tulang tarsal digabungkan ke dalam proksimal diakhiri tulang tunggal tarsus metatarsus yang juga termasuk penggabungan metatarsal 2, 3, dan 4.  Empat   jari tangan membentuk kuku pada burung. Jari pertama langsung ke belakang sedangkan jari 2, 3, dan 4 ke depan. Adaptasi ini memungkinkan burung dapat bertengger. Illium disatukan pada synsacrum, dimana disatukan di tengah. Tulang pubis terpisah dan rancangannya terbalik sebagai tangkai-tangkai tipis. Struktur terbuka dari pelvis memungkinkan perjalanan telur dari rongga perut. Illium, ischium, dan pubis semuanya memperbesar acetabulum tetapi illium membentuk lebih dari setengah persendian dan dasarnya bermembran (Swatland, 1984).

Sunsum tulang terdapat dalam tulang kering, tulang paha, tulang pinggul, tulang dada, tulang iga, tulang hasta, tulang belikat, dan kuku. Anak ayam sewaktu tumbuh dewasa, yakni sekitar 10 hari menjelang pembentukan telur yang pertama, mulai menampung tulang sunsum. Tulang-tulang ini pada ayam liar menghasilkan kalsium yang cukup untuk membentuk kerabang bila kadar kalsium yang dimakan selama bertelur rendah (Akoso, 1993).

Timbunan kalsium tulang ayam betina piaraan hanya dapat mencukupi pembentukan beberapa kerabang telur. Apabila kandungan kalsium rendah, maka setelah ayam bertelur kurang lebih 6 butir, akan kehilangan sekitar 40% dari total kalsium tulang (Akoso, 1993).

Tulang-tulang yang diamati selama praktikum sebagian besar sudah sesuai dengan literatur yang ada meskipun ada beberapa tulang dalam literatur yang tidak diketahui oleh praktikan. Keterbatasan pengenalan tulang yang dilakukan dikarenakan banyaknya macam tulang yang ada sedangkan waktu untuk melakukan praktikum terbatas sehingga hanya tulang yang dianggap penting saja yang diperkenalkan. Selain itu, praktikan diharapkan dapat memperdalam sendiri pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kerangka ayam dengan membaca literatur yang ada.

Perototan ayam. Otot dada bangsa burung umumnya kuat untuk menjamin kemampuan terbangnya. Ayam memiliki otot merah dan otot putih karena perbedaan zat warna merah (mioglobin), yang membawa oksigen ke dalam otot (Akoso, 1993).

Kekuatan gerak utama dari sayap selama terbang diatur oleh otot pectoralis besar yang terletak di daerah dada. Sayap dinaikkan oleh otot supracoracoid. Otot   supracoracoid dapat menyebabkan perpindahan secara berlawanan meskipun berbatasan dan paralel dengan pectoralis. Hal ini  dikarenakan tendonya disisipkan ke dalam sisi berlawanan dari humerus pada tendon pectoralis (Swatland, 1984).

Otot pectoralis pada unggas adalah otot terbesar dari tubuh kira-kira 8% dari berat tubuh. Otot kecil yang terletak dalam sayap mengontrol permukaan dan derajat perputaran sayap selama terbang (Swatland, 1984). Pectoralis sering digunakan untuk melakukan pengujian kualitas daging, tetapi kadang-kadang juga digunakan biceps femoris (Soeparno, 1994).

Otot-otot di kaki disesuaikan untuk perpindahan dua arah. Sartorius menjadi sebuah pengikat di tengah-tengah. Sartorius belakang adalah sebuah susunan otot (tensor fascialata, biceps femoris, semitendinosus, dan semimembranosus) yang menempati posisi umum yang sama dengan mamalia. Nama yang benar secara anatomi untuk otot-otot burung diberikan oleh Vanden Berge pada tahun 1979 (Swatland, 1984).

Otot-otot yang diamati pada ayam sudah sesuai dengan literatur yang ada. Kelengkapan nama-nama dan letak otot yang diketahui praktikan pada saat praktikum sedikit dikarenakan macam otot yang ada pada ayam relatif sedikit.

Jaringan epitel. Pengamatan terhadap jaringan ini dilakukan dengan perbesaran 20 kali. Jaringan epitel yang dimaksudkan dalam praktikum ini yaitu jaringan kulit. Jaringan epitel merupakan jaringan yang melapisi permukaan tubuh, organ tubuh atau permukaan saluran tubuh hewan. Berdasarkan bentuk dan susunannya, jaringan epitel dibagi menjadi epitel pipih, epitel kubus, epitel silindris, dan epitel transisional. Sebagai jaringan yang menutupi seluruh permukaan luar dan dalam tubuh setiap organisme, jaringan epitel mempunyai fungsi sebagai pelindung, kelenjar, penerima rangsang, dan lalu lintas keluarnya zat (Frandson, 1992).

Stratum basale pada kulit merupakan lapis yang paling dalam dan lazimnya berbentuk silinder atau silinder rendah. Sel-sel stratum basale kaya akan poliribosom yang berperan dalam sintesis tonofilamen. Lapis berikutnya terdiri dari lapis sel polihedral yang bertaut erat satu dengan yang lain melalui desmosom, disebut stratum spinosum. Lapis bawah stratum spinosum sering tampak proses mitosis, seperti halnya stratum basale. Keduanya sering disebut stratum germinativum yang dianggap mampu menggantikan sel-sel permukaan yang aus dan terkelupas oleh pengaruh mekanik (Dellmann and Brown, 1989).

Bentuk sel-sel lapis atas stratum spinosum mulai memipih dan mulai mengandung butir keratohialin dalam sitoplasma ketika sel-sel lapis atas stratum spinosum terdorong ke atas. Lapis sel-sel yang mengandung butir keratohialin disebut stratum granulosum. Stratum ini tidak terdapat pada semua bentuk epitel pipih banyak lapis. Lapis ini tidak tampak pada tipe epitel bukan keratin dan tipe keratin yang menghasilkan keratin keras (hard keratin), misalnya pada dinding kuku kuda dan tanduk ruminansia. Sel-sel pada stratum granulosum berbentuk kincir dan mengandung butir keratohialin. Sel-sel paling luarnya disamping mengandung butir keratohialin juga terdapat butir lonjong (100 – 500 nm) yang terdiri dari lamel gelap dan cerah (Dellmann and Brown, 1989).

Stratum lucidum hanya terdapat pada kulit ternak tidak berambut. Lapis ini terdiri dari satu atau dua lapis sel berbentuk pipih dan bertanduk, antara stratum granulosum dan stratum corneum. Sifatnya tembus cahaya (translucent) karena mengandung eleidin, sejenis protein mirip keratin yang hanya berbeda pada afinitas terhadap warna (Dellmann and Brown, 1989).

Stratum corneum adalah lapis terluar yang terdiri dari beberapa lapis sel yang telah mati, bertanduk dan resisten terhadap pengaruh luar. Stratum corneum sejati tidak terbentuk pada epitel pipih banyak lapis bukan keratin, dan lazimnya terdapat dalam rongga tubuh yang basah permukaannya. Di daerah tersebut sel-sel masih memiliki inti dan keratinnya. Lapis sel-sel paling luar lazimnya lepas dan terpisah. Proses ini menimbulkan istilah deskriptif: stratum disjunctum. Proses pengelupasan ini diduga karena melemahnya hubungan desmosom antar sel permukaan (Dellmann and Brown, 1989).

Bagian-bagian yang diamati pada praktikum ini sudah sesuai dengan literatur yang ada meskipun hanya bagian-bagian yang umum saja, misalnya stratum lucidum, stratum spinosum, stratum corneum, stratum basale dan lain-lain.

Jaringan ikat. Pengamatan terhadap jaringan ini dilakukan dengan perbesaran 20 kali. Dalam pengamatan dengan mikroskop, jaringan ikat terdiri dari fibroblast, serabut kolagen dan serabut elastin. Menurut Frandson (1992), jaringan ikat terdiri dari serabut, sel-sel dan cairan ekstra seluler. Cairan ekstra seluler dan serabut disebut dengan matriks. Fungsi jaringan ikat adalah mengikat atau mempersatukan jaringan-jaringan menjadi organ dan berbagai organ menjadi sistem organ, sistem organ menjadi selubung organ dan melindungi jaringan atau organ tubuh. Jaringan ikat dibagi menjadi dua yaitu jaringan ikat padat dan jaringan ikat longgar.

Kadar kolagen daging dapat berbeda diantara jenis kelamin, umur dan diantara daging pada karkas yang sama. Perbedaan kandungan kolagen ini sangat menentukan nilai ekonomis bagian-bagian karkas dan daging. Kadar kolagen daging dipengaruhi oleh kandungan lemaknya. Kadar lemak yang relatif tinggi akan melarutkan atau menurunkan kandungan kolagen (Soeparno, 1994).

Elastin adalah protein elastis yang terdapat di seluruh tubuh. Serabut-serabut elastis terbentuk dari protein-protein elastin. Elastin jaringan ikat terdapat dalam jumlah yang lebih sedikit daripada kolagen. Elastin dapat diketemukan sebagai komponen utama dari jaringan-jaringan tertentu seperti ligamentum nuchae, dinding abdomen dan semua arteri dari aorta sampai ke arteriol. Elastin juga terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit pada komponen kulit mamalia, tendo, adipose, otot dan jaringan ikat longgar (Soeparno, 1994).

Serabut-serabut elastin dapat meregang sampai beberapa kali panjang semula dan bila tegangan dibebaskan, dapat kembali ke panjang semula. Serabut-serabut elastin, seperti pada ligamentum nuchae berwarna kuning pucat. Tipe sel jaringan ikat antara lain terdiri dari fibroblast, makrofag, sel sistem pembuluh darah dan sel mast. Fibroblast adalah tipe sel jaringan ikat yang dominan (Soeparno, 1994).

Bagian-bagian yang diamati pada saat praktikum bila dibandingkan dengan literatur masih ada yang kurang. Hal ini terjadi karena bagian preparat yang diamati hanya terdapat beberapa bagian dari jaringan ikat. Sebenarnya dalam preparat terdapat bagian-bagian jaringan ikat secara lengkap tetapi untuk mengamati perlu perbesaran yang sesuai dan diambil bagian yang dianggap bagian paling jelas, ternyata bagian yang diambil tidak terdapat bagian jaringan ikat secara lengkap.

Jaringan tulang. Pengamatan terhadap jaringan ini dilakukan dengan perbesaran 20 kali. Menurut Frandson (1992), jaringan tulang terdiri dari sel-sel tulang atau osteon yang tersimpan di dalam matriks. Matriks terdiri dari zat perekat kolagen dan endapan garam-garam mineral terutama garam kalsium (kapur). Tulang merupakan komponen utama dari kerangka tubuh dan berperan untuk melindungi alat-alat tubuh dan tempat melekatnya otot rangka. Tulang dapat dibagi menjadi dua, yaitu tulang keras bila matriksnya padat dan tulang spons bila matriksnya berongga.

Tulang terdapat sistem kanalikuli untuk menjangkau sel-sel tulang dalam pengiriman nutrisi serta pengangkutan metabolit. Bila matriks tulang telah dihasilkan oleh sel pembentuk tulang, osteoblast, maka sel tersebut terperangkap dalam lakuna, dan akhirnya disebut osteosit. Penjuluran sitoplasma yang panjang dari osteosit terkurung dalam saluran kecil. Saluran kecil ini disebut kanalikuli, terentang dari lakuna satu ke lakuna lain, dan ke permukaan tulang mendekati kapiler. Kanalikuli menembus matriks tulang untuk mendapatkan nutrisi bagi sel-sel tulang dewasa, yaitu osteosit. Tulang tumbuh hanya dengan pola aposisi. Tulang bertambah besar serta berubah bentuknya, dengan cara membentuk lapis satu atau lebih pada permukaannya (Dellmann and Brown, 1989).

Lamel-lamel terdapat dalam tulang dengan tebal 2 – 8 µm, dan lakuna terdapat di antara lamel. Kanalikuli memancar dari lakuna secara radier, menembus lamela dan berhubungan dengan kanalikuli lain. Lakuna dan kanalikuli membentuk jalinan yang saling berhubungan untuk transpor nutrisi (Dellmann and Brown, 1989).

Osteosit adalah sel utama pada tulang dewasa dan menempati lakuna yang dikelilingi oleh matriks berkapur. Penjuluran sitoplasma osteosit yang cukup panjang mengisi kanalikuli dan saling berhubungan dengan kanalikuli osteosit lain. Osteosit muda lebih mirip osteoblast. Setelah dewasa apparatus golgi dan rER berkurang, sebaliknya lisosom meningkat jumlahnya. Enzim lisosom dari osteosit dapat mempertahankan kandungan mineral dalam matriks, tetapi fungsinya dalam melepas kalsium diduga minim, sebab osteoklas berperan utama dalam penyerapan tulang (Dellmann and Brown, 1989).

Osteosit dapat menarik dan mengganti tulang perilakunar setebal 1 µm di sekitar osteosit. Kandungan mineral dalam tulang perilakunar agak rendah, karenanya lebih mudah larut dan berlangsung pertukaran mineral dengan cairan jaringan di sekitarnya. Tulang perilakunar diduga sebagai sumber mineral (mineral reservoir) dengan sedikit pengaruhnya terhadap struktur tulang. Penyerapan tulang perilakunar dikenal memelihara struktur tulang, sebab bila mati, osteoklas akan segera beraksi menyerap tulang (Dellmann and Brown, 1989).

Bahan organik antar sel pada tulang mengandung sulfated glycosaminoglycan, glikoprotein, beberapa albumin darah dan kolagen. Komponen anorganik tulang terdiri dari kristal hidroksiapatit yang bersifat submikroskopik berbentuk kristal seperti jarum di dalam serabut kolagen. Ion-ion penting dalam tulang berupa Ca, CO3, PO4 dan OH, di samping adanya tambahan unsur Na, Mg dan Fe. Tulang dikenal sebagai gudang garam kalsium dan fosfor yang dapat dimobilisasikan bila perlu (Dellmann and Brown, 1989).

Ruang sumsum dan ruang saluran Haver dibalut oleh jaringan ikat halus disebut endosteum. Sel-sel endosteum dapat berperan penting dalam homeostasis mineral dengan mengatur aliran kalsium dan fosfat keluar masuk cairan tulang. Hal ini memungkinkan perkembangan lingkungan yang menunjang pembentukan kristal tulang secara optimum (Dellmann and Brown, 1989).

Bagian-bagian yang diamati pada praktikum ini juga masih kurang bila dibandingkan dengan literatur. Hal ini terjadi karena untuk mencari gambar yang jelas menyebabkan tidak semua bagian dapat diamati.

Jaringan pada sistema digestiva. Pengamatan pada jaringan ini dilakukan dengan perbesaran 20 kali. Villi mempunyai daya absorpsi 10 kali pada usus halus. Villi terdiri dari banyak microvilli. Kekuatan absorpsi microvilli ini 20 kali pada usus halus (Kustono, 1997). Ukuran villi bertambah atau berkurang tergantung pada jumlah sel yang dihasilkan dan yang mengalami deskuamasi dalam lumen.

Saluran pencernaan terdiri dari empat lapisan, yaitu lapisan mukosa, submukosa, lapisan otot dan lapisan serosa. Lapisan mukosa terdiri dari epitel pembatas, lamina propria dan muscularis mucosae. Lamina propria usus halus terdiri atas jaringan penyambung jarang dan pembuluh darah dan limfe, serabut-serabut saraf dan sel-sel otot polos. Lamina propria menembus ke dalam inti villi usus, bersama dengan pembuluh darah dan limfe, saraf, jaringan penyambung, mifibroblas dan sel-sel otot polos. Miofibroblas dan sel otot polos bertanggung jawab akan pergerakan berirama villi yang penting untuk absorpsi.

Muscularis mucosae merupakan suatu lapisan tipis kontinyu dari otot polos yang memisahkan lapisan mukosa dari submukosa. Muscularis mucosae meningkatkan pergerakan lapisan mukosa secara independen dari pergerakan saluran pencernaan lain, sebagai akibatnya, meningkatkan kontak dengan makanan. Kontraksi lapisan mukosa mendorong dan mencampur makanan dalam saluran pencernaan. Sel-sel gobelet terselip antara sel-sel absorpsi. Jumlah mereka lebih sedikit dalam duodenum dan bertambah bila mencapai illeum. Mereka menghasilkan glikoprotein asam yang fungsi utamanya melindungi dan melumasi sel pembatas usus halus.

Bagian-bagian yang diamati pada praktikum ini sebagian sudah sesuai dengan literatur yang ada. Hal ini dikarenakan hanya bagian tersebut yang terlihat sedang bagian yang lain tidak ikut teramati sebab hanya diambil bagian yang dianggap jelas untuk melakukan pengamatan.

Jaringan otot. Otot dikelilingi oleh selapis jaringan ikat yang disebut epimysium. Epimysium terlihat cukup tebal dan kuat dan merupakan tempat deposisi lemak (lemak antar otot) pada hewan. Selapis kecil dari jaringan ikat yang disebut perimysium dengan jarak yang tak teratur masuk ke dalam otot dan membagi otot menjadi ikatan-ikatan serabut otot yang disebut fasiculi (Kustono, 1997).

Lapisan-lapisan jaringan ikat perimysium yang mengandung dan membungkus pembuluh-pembuluh darah dan syaraf serta kumparan-kumparan otot biasanya didapatkan dalam ruang perimysium. Sel-sel lemak juga dideposisikan pada lapisan jaringan ikat perimysium. Jaringan ikat yang halus dan sangat lembut yang berada dalam perimysium dan mengelilingi pada setiap serabut otot disebut endomysium. Endomysium berada tepat dekat dengan sarkolema atau bagian luar dari membran sel otot dan kadang-kadang sukar dibedakan dengan membran sel otot tersebut (Kustono, 1997).

Serabut otot tersusun dalam berkas, sumbunya paralel dengan arah kontraksi. Dalam serabut otot banyak terdapat fibroprotein dalam sarkoplasma yang mudah menyerap zat warna untuk sitoplasma (Dellmann and Brown, 1989). Ukuran fasiculi otot menentukan tekstur otot, sehingga fasiculi yang lebih besar, teksturnya lebih kasar. Secara umum, kekuatan otot yang menjadikan gerakan yang kuat (paha dan lengan) mempunyai fasiculi lebih besar sehingga teksturnya kasar dibanding otot-otot yang lebih kecil yang membutuhkan (membentuk) gerakan yang lebih halus (otot-otot mata) (Kustono, 1997).

Bagian-bagian jaringan otot yang diamati pada praktikum ini sebagian besar sudah sesuai dengan literatur yang ada. Hal ini dikarenakan adanya ketepatan pengambilan bagian preparat yang digunakan untuk praktikum.

Anatomi Domba

Kerangka domba. Kerangka domba yang diamati tersusun oleh kurang lebih 35 tulang. Kerangka domba bagian depan tersusun oleh tulang mandible, maxilla, coronoid process, nasal, lacrima, occipital, atlas dan cervical vertebrae. Tulang nasal pada domba tampak lebih meruncing sampai akhir bagian anterior. Tulang maxilla terletak antara persimpangan tulang lacrima dan malar. Tulang atlas pada domba berbeda terutama pada ketinggian dari lengkung dorsal yang banyak berkembang. Tulang occipital merupakan bagian dari semua bagian permukaan kerangka, kecuali area lateral kecil (Sisson, 1953).

Kerangka domba bagian tengah tersusun oleh tulang cartilage of spinous process, spinous process, transverse process, ribs, costal cartilage, scapula dan sternum. Secara umum sternum yang dimiliki oleh domba hampir menyerupai sternum yang dimiliki oleh sapi jantan. Tulang ribs atau rusuk pada kambing biasanya berkisar antara 13 atau 14. Bagian rusuk ke dua sampai ke sebelas biasanya mengalami pengerasan dari kartilago (Sisson, 1953).

Bagian kerangka belakang terdapat tulang kemaluan yaitu illium, ischium, dan pubis. Selain itu juga terdapat tulang sacral, lumbar dan cocygeal yang menjadi tulang ekor pada domba. Tulang yang menyusun kerangka kaki depan adalah humerus, stifle joint, olecanon processus, ulna, radius, carpus, metacarpus, phalanges dan digiti. Carpus pada domba menyerupai carpus pada sapi kecuali pada ukuran dan variasinya yang lebih panjang. Humerus domba lebih panjang dan lebih kecil daripada humerus pada sapi jantan. Begitu pula ulna pada domba lebih kecil daripada sapi. Tulang phalanges adalah kepala dari tulang digiti dan relatif panjang dan sempit (Sisson, 1953).

Kerangka kaki bagian belakang tersusun oleh tulang-tulang seperti femur, pattela, tibia, tarsus, metatarsus, phalanges dan digiti. Femur domba lebih ramping cembung pada anterior. Perbedaan dengan femur sapi adalah pada garis pisah pada permukaan lateral dan posterior. Tibia domba lebih panjang dan lebih kecil daripada sapi, namun bentuknya hampir menyerupai sapi jantan (Sisson, 1953).

Apabila dibandingkan dengan literatur yang ada, bagian-bagian tulang pada kerangka domba yang diamati sudah sesuai dengan literatur meskipun masih ada juga tulang yang belum disebutkan.

Perototan domba. Pedoman untuk memperoleh potongan primal karkas domba dapat didasarkan atas lokasi-lokasi tertentu pada kerangka. Potongan primal karkas domba adalah bahu (shoulder, termasuk leher), rib (rusuk) atau rack, paha depan (shank) atau shin dan dada (breast) yang termasuk karkas bagian depan (sadel depan) dan paha (leg termasuk sirloin), loin dan flank yang termasuk sadel belakang. Sadel depan dan sadel belakang masing-masing berjumlah kira-kira 50% (Soeparno, 1994).

Supraspinatus, infraspinatus, trapezius, rhomboideus, subscapularis, biceps brachii dan triceps brachii merupakan bagian dari otot bahu. Otot bahu pada umumnya mempunyai keempukan yang sedang. Supraspinatus terdapat di bagian dorsal terhadap spina atau bagian pundak scapula. Infraspinatus terdapat di bagian ventral terhadap spina scapular. Trapezius terdapat di bagian superficial di antara scapula kiri dan kanan. Rhomboideus adalah ventral terhadap trapezius (Soeparno, 1994). Letak rhomboideus pada praktikum ini tidak ditunjukkan.

Subscapularis terletak pada permukaan medial dari scapula mengarah ke rusuk. Biceps brachii adalah anterior terhadap humerus. Triceps brachii (tiga kepala) yang seperti segitiga adalah otot besar dan terletak pada area segitiga dari ujung ventral scapula sampai ujung posterior dari humerus. Triceps brachii termasuk otot-otot yang penting dan sering diikutkan dalam pengujian kualitas daging (Soeparno, 1994). Subscapularis pada praktikum ini tidak ditunjukkan letaknya.

Serratus ventralis dan longissimus dorsi merupakan bagian dari otot rusuk. Serratus ventralis adalah otot besar berbentuk seperti kipas dari permukaan medial scapula dan melekat pada permukaan rusuk. Otot ini mepunyai fungsi sebagai penyerap kejutan selama gerakan. Otot Longissimus dorsi (LD) adalah otot yang sangat penting dan membentuk mata daging jika dipotong dari area rusuk dan dari loin (Soeparno, 1994). Otot LD terdiri dari banyak sub unit otot yang masing-masing membantu fleksibilitas vertebra column dan gerakan leher serta aktivitas pernafasan (Swatland, 1984).

Penampang lintang LD meluas ke arah posterior rusuk. Otot LD bagian loin mempunyai penampang lintang yang hampir konstan. Area LD di antara bagian seperempat depan dan seperempat belakang dari karkas, yaitu di antara rusuk ke 12 dan ke 13 sering diuji untuk menaksir jumlah daging dari suatu karkas. Luas area LD ini juga bisa dipergunakan sebagai petunjuk perbedaan tingkat perototan di antara karkas dengan panjang karkas yang kira-kira sama. Area LD atau LDA (Longissimus Dorsi Area). Pada rusuk ke 12 atau loin sering disebut Rib Eye Area (LEA) pada loin (Soeparno, 1994).

Otot pectoralis berlokasi di bagian sternum pada dada depan (brisket), dan meluas posterior ke bagian dada belakang (plate). Otot intercostal adalah otot di antara rusuk yang berdekatan pada dinding dada dan terdiri dari dua lapisan otot (Soeparno, 1994).

Otot loin menghasilkan daging yang empuk dengan rasa yang enak, tetapi harganya mahal. Otot LD memanjang posterior dari daerah rusuk melalui loin dan berakhir di bagian anterior dari illium. Otot LD adalah dorsal terhadap Processus transversus dari vertebral lumbar dan bagian thoracis. LD adalah dorsal terhadap rusuk. Ada dua otot pada loin, di atas dan di bawah Processus transversus di bagian vertebral lumbar. Otot di bagian dorsal Processus transversus adalah otot LD, dan di bagian ventralnya adalah otot Psoas major (otot fillet) (Soeparno, 1994).

Otot Psoas major (PM) di mulai dari bagian ventral rusuk terakhir (ke 13). Penampang lintang otot PM meningkat ke arah sirloin. Di bagian medial PM, kira-kira di bawah sentral vertebrae terdapat otot psoas yang lebih kecil dan disebut Psoas minor. Tepat di bagian lateral terdapat spina dorsal dari vertebra atau medial terhadap LD terdapat otot-otot kecil yang disebut Multifidus dorsi (MD). Di bagian dorsal terhadap rusuk-rusuk terdapat otot yang disebut Longissimus costarum (LC) (Soeparno, 1994).

Paha terdiri dari otot-otot yang besar dan pada umumnya menghasilkan daging dengan keempukan yang sedang sampai empuk serta harganya mahal. Otot Gracillis adalah otot tipis dan tersebar di bagian medial paha. Otot sartorius adalah anterior terhadap gracilis. Otot Quadriceps femoris terdiri dari empat otot besar, yaitu Vastus medialis (VM), di bagian medial, Vastus lateralis (VL, lateral), Vastus intermedius (VI, menutup anterior dari femur) dan Rectus femoris (RF, menutup VI) (Soeparno, 1994).

Biceps femoris (BF) adalah otot besar pada permukaan lateral (luar) dari paha, dan mempunyai lekukan memanjang yang membagi BF. Pada penampang lintang, BF tampak terbagi menjadi dua bagian, bagian yang lebih kecil berwarna lebih pucat. Posterior dari paha terdapat otot Semitendinosus (ST) dan otot Semimembranosus (SM), medial terhadap ST. Adductor (A) dan pectineus (P), anterior terhadap adductor, terdapat pada bagian medial paha di dekat femur. Semimembranosus, adductor, dan pectineus sukar dipisahkan dan ketiga otot seolah-olah bersatu menjadi otot tunggal. Gastrocnemius terdapat di bagian dalam dari paha, tertutup oleh ekstensi distal otot-otot proximal. Gastrocnemius terkait pada tendo achilles (Soeparno, 1994).

Tiga lapis otot besar yang membentuk paha atas (rump) dan sirloin di antara paha dan loin (shortloin) adalah Gluteus medius (GM), Gluteus accessorius (GA), dan Gluteus profundus (GP). GM adalah otot yang terbesar di antara otot Gluteus. GM terletak di bagian permukaan lateral dari ilium. Otot PM juga meluas posterior dari loin ke sirloin dan berhubungan dengan otot iliacus. Otot iliacus bersama-sama dengan PM disebut iliopsoas (Soeparno, 1994).

Otot flank dan otot perut mengandung banyak jaringan ikat dan alot. Otot perut atau abdominal terdiri dari lapisan-lapisan otot paralel dan jaringan ikat, misalnya tensor fascialata. Otot ini berbentuk seperti segitiga berlokasi pada sudut flank dan paha. Fascialata adalah lembaran jaringan ikat yang menutupi permukaan anterior paha dan dapat diregangkan oleh otot tensor fascialata pada saat bergerak atau pada periode penggantungan karkas (Soeparno, 1994).

Sebagian besar otot leher tersusun dari jaringan ikat dan alot. Otot leher yang penting dalam penelitian adalah Sternomandibularis yang membentuk bagian superficial kumpulan otot dan ventral terhadap kerongkongan dari kepala sampai sternum. Otot ini dilepaskan saat pemisahan karkas (Soeparno, 1994). Otot-otot pada leher disebut dengan Transverse process of cervical vertebrae. Bagian kaki depan tersusun dari tiga otot, yaitu Extensor carpii radialis, Flexor carpii radialis dan Flexor carpii ulnalis. Otot yang menempel pada tulang tibia disebut lateral condyle of tibia.

Bagian-bagian dan nama otot domba yang diamati masih banyak kekurangan bila dibandingkan dengan literatur. Hal ini dikarenakan bagian-bagian dan nama-nama otot domba sangat banyak bahkan sampai ratusan sehingga otot-otot tertentu saja yang diperkenalkan. Untuk menyebutkan semua nama otot dan bagian-bagiannya akan membutuhkan waktu yang lama dan belum tentu praktikan akan hafal dan mengerti semua yang disebutkan. Semua nama otot domba dan bagian-bagiannya akan mudah diingat bila sering mengamati dan memegang daging domba.

BAB V

KESIMPULAN

Kerangka ayam terdiri dari mandible, incisive, nasal, lacrimal, quadrate, occipital, atlas, axis, epistropheus, humerus, ulna, radius, metacarpus, phalanges, clavicle, coracoid, scapula, sternum, illium, ischium, pubis, pygostyle, femur, patella, fibula, tibia, tarsus dan metatarsus.

Perototan pada ayam terdiri dari pectoralis superficialis, biceps brachii, extensor dan flexor carpii radialis, biceps femoris, gastrocnemius, tibialis cranialis, tendo-tendo extensor, tendo-tendo flexor, otot-otot cervical, obliqus abdominis externus dan gluteus superficialis.

Jaringan otot terdiri dari jaringan ikat, endomisium, serabut otot dan epimisium. Jaringan tulang terdiri dari lacuna, intermediate system dan lamela. Jaringan ikat terdiri dari fibroblast, serabut kolagen dan serabut elastin. Jaringan pada sistema digestiva terdiri dari villi/jonjot, sel gobelet, lamina propria, lamina muscularis mucosae, muscullar layer inner dan muscullar layer outer. Jaringan kulit terdiri dari papilla dermal, stratum corneum, stratum lucidum, stratum granulosum, stratum spinosum dan stratum germinativum.

Kerangka domba terdiri dari nasal, mandible, maxilla, lacrima, coronoid process, occipital, atlas, axis, scapula, sternum, humerus, stifle join, olecanon processus, radius, ulna, carpus, metacarpus, phalanges, digiti, cartilage spinous process, spinous process, sternal, asternal, lumbar, transverse process, illium, ischium, pubis, femur, pattella, tibia, tarsus, metatarsus, sacral dan cocygeal vertebrae.

Perototan domba terdiri dari seperempat bagian depan dan seperempat bagian belakang. Seperempat bagian depan terdiri dari transverse process of cervical vertebrae, infraspinatus, supraspinatus, longissimus dorsi, triceps brachii, pectoralis, lattisimus dorsi, serratus ventralis, extensor carpii radialis, flexor carpii radialis dan flexor carpii ulnalis. Seperempat bagian belakang terdiri dari gluteus medius, flank, tensor vascialata, vastus lateralis, semitendinosus, semimembranosus, biceps femoris, triceps femoris, gastrocnemius, tendo arciles dan lateral condyle of tibia.

DAFTAR PUSTAKA

Akoso, Budi Tri. 1993. Manual Kesehatan Unggas. Kanisius, Yogyakarta

Blakely, James and David H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Dellmann, H. Dieter and Esther M. Brown. 1989. Buku Teks Histologi Veteriner I Dellmann Brown. Edisi ketiga. UI Press, Jakarta

Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Kustono, 1997. Fisiologi Ternak Dasar. Fakultas Peternakan UGM, Yogyakarta

Lawrie, R. A. 1995. Ilmu Daging. UI Press, Jakarta

Radiopoetro. 1991. Zoologi. Erlangga, Jakarta

Sisson, Septimus. 1953. The Anatomy of The Domestic Animals. W. B Sounders Company, Philadelphia and London

Soeparno. 1994. Teknologi Pengolahan Daging. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Swatland, H. J. Structure and Development of Meat Animals. 1984. Prentice-Hall, Inc., Englewood cliffs, New Jersey

Di era komunikasi global ini, beragam informasi masakan masuk ke Indonesia sebagai trend baru gaya hidup. Tidak terkecuali steak. Orang-orang muda terutama pelajar dan mahasiswa banyak mengkonsumsi makanan ini, sehingga Jogja yang merupakan kota pelajar merupakan pemicu tumbuhnya warung steak yang saat ini sudah banyak dijumpai di kota Gudeg ini.

Steak merupakan bagian dari sajian pesta babeque dengan menu daging atau ikan yang dipanggang di atas api. Tidak banyak yang tahu bahwa secara istilah, steak adalah sayatan daging dalam ukuran tebal. Kata itu mengacu pada sayatan daging di bagian tubuh tertentu., seperti sayatan pada tenderloin atau sirloin. Meskipun daging kambing dan daging lainnya dapat pula disteak, tetapi dia Amerika dan di Eropa steak hanya untuk daging sapi. Sehingga, sering dikonotasikan bahwa steak hanya untuk daging sapi.

Pada tahun 1990an, di Jogja steak hanya bisa dijumpai di hotel-hotel berbintang lima sebagai menu utama turis yang kurang cocok dengan menu masakan Indonesia. Namun sekarang, dibeberapa ruas jalan utama di Jogja, mudah ditemui warung-warung steak dengan spanduk besar dan mencolok. Tentu saja, makanan yang mencerminkan gaya hidup barat ini ditawarkan dengan harga relatif terjangkau. Saat ini steak tidak hanya dengan daging sapi, namun warung-warung steak menghadirkan steak dalam beragam variasi, mulai dari steak ikan laut, steak ayam, steak babi bahkan steak bekicot sehingga dengan beragamnya variasi, eksistensi steak menjadi beragam.

Dengan keragaman menu-menu steak, tidak heran steak tumbuh subur karena harga yang terjangkau dan tanggapan masyarakat yang baik. Bisa terjadi, steak yang ditawarkan dengan harga yang murah itu bukan sirloin atau tenderloin asli, namun hanya empal sapi yang dimasak ala steak. Jika ini terjadi, toh masyarakat tidak peduli, bahkan kemungkinan malah tidak tahu.

Karena sajian ini merupakan sajian kelas atas, alhasil jika kemudian banyak orang muda menganggap steak sebagai makanan favorit yang ‘wajib’ dicoba. Anak-anak muda cenderung menganggap behwa dengan mengkonsumsi produk yang berasal dari barat, life style mereka dapat meningkat lebih tinggi. Boleh jadi gaya  hidup seperti itulah yang ingin mereka tiru. Dengan demikian, makanan steak diasumsikan identik dengan upaya meningkatkan ‘derajad sosial’ ke arah yang lebih tinggi.

Lepas dari itu semua, duduk di warung steak tentunya lebih bergengsi daripada di angkringan, ya, untuk sebagian orang, gengsi adalah segala-galanya.

Siang itu begitu terik, ketika kuntum bersilaturahmi ke Pamella satu. Setelah memarkirkan motor di area parkir yang begitu luas. Tanpa rasa malu Kuntum mengeluarkan kameranya untuk memotret objek-objek yang ada didalam swalayan. Sampai-sampai Kuntum ditegur oleh pak satpam.

Ibu Noor Liesnaeni Pamella, itulah seorang tokoh wanita yang kini Kuntum profilkan. Walau beliau tidak tamat SMA, tapi beliau bersama sang suami kini memiliki tujuh swalayan Pamella, satu SPBU dan memiliki lima ratusan karyawan.

Menurut pengakuan beliau, perjalanan hidupnya memang dimulai sejak nol. Beliau dilahirkan dari keluarga pengusaha, Istri Sunardi Syahuri ini memiliki bakat sebagai enterpreneur secara turun temurun.”Ketika kelas 5 SD, saya sudah bisa membuat mainan dari kertas, dulu saya beli satu mainan dari sekaten, lalu saya tiru seperti aslinya, eh, ternyata bisa.Lalu saya gantungkan mainan itu di stand simbah saya waktu Muktamar Muhammadiyah, eh ternyata para pengunjung suka dan membeli mainan buatan saya,” tutur beliau.

Jiwa wirausaha beliau terus dan menerus diasah, ketika SMP beliau membantu ibunya berjualan dan ketika SMA beliau sudah ikut kulakan dagangan. Karena tiap pulang sekolah kulakan dan malamnya menghitung uang dagangan, beliau sampai tidak sempat mengerjakan PR (pekerjaan rumah). Mau tidak mau beliau setiap hari dihukum oleh guru sampai beliau terkena penyakit ulu hati.

Karena terlalu sering dihukum, Ibu yang dulunya dipanggil Nani ini ini trauma. Setelah kelas 3 SMA, Nani sering menyendiri, insomnia (sulit tidur), dan pernah secara tidak sadar sedang bersepeda. Nani baru sadar ketika sudah berada di Jalan Sudirman sekitar Tugu. Padahal waktu itu sudah lepas waktu magrib menjelang isya’. Akhirnya beliau diajak Ibunya ke psikiater. Kata dokter Nani memiliki penyakit psikotomatis, yaitu penyakit takut kepada guru. “Sebenarnya saya hanya takut saat tidak mengerjakan PR dan bertemu guru-guru tertentu, tapi kalau untuk ulangan lancar. Kata dokter, saya harus memilih sekolah atau kerja dan pilihan saya jatuh ke milih kerja,” tutur beliau.

Setelah menikah dengan Bapak Sunardi pada tahun 1975, mereka berdua memulai bisnis bersama. Mereka membuat warung kecil ukuran 5×5 m. Sekalipun kecil, keberadaannya sangat berarti untuk kehidupan pasangan muda ini. Dengan ikhlas mereka bergantian menjaga warung mulai pukul 06.00 sampai 21.00. Mereka tiap harinya menyediakan kaleng bekas untuk tempat uang di sisi depan toko. Dengan tujuan untuk menabung lima puluh rupiah tiap harinya untuk qurban, “alhamdulillah setelah satu tahun, kami bisa berkurban” tuturnya kepada Kuntum. Tahun berikutnya mereka berniat naik haji dengan selalu menyisihkan lima ratus rupiah tiap harinya. “Dulu pemerintah masih menetapkan biaya pergi haji sebesar Rp 800.000,00. Dengan ONH Ongkos Naik Haji) sebesar itu, saya memperkirakan setelah menabung beberapa lama, kami akan sama-sama bisa naik haji. Namun tahun 1979, pemerintahkan pengumuman devaluasi mata uang rupiah. Saat itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diturunkan beberapa kali lipat. ONH yang ditetapkan pun melonjak dua kali lipat. Untungnya, tabungan haji yang saya kumpulkan saya simpan dalam bentuk emas perhiasan, karena terjadi inflasi, maka harga emas pun melonjak beberapa lipat. Bahkan ketika emas perhiasan itu dijual, uang yang saya peroleh jauh lebih besar dari yang saya perkirakan. Dengan uang itu pula kami juga mengajak ibu untuk bersama-sama pergi  haji, pada tahun 1979” ungkap ibu lima anak ini dengan penuh semangat

Suami istri ini terbilang cerdik, mereka selalu memanfaatkan pasar dalam  berdagang. Ketika musim liburan, mereka menjual mainan seperti kelereng dan layangan, tapi ketika musim kenaikan sekolah, mereka menjual buku maupun seragam sekolah.

Dengan modal semangat dan ketekunan, warung Pamella yang terletak di jalan Kusumanegara sedikit demi sedikit berkembang. Awalnya omset penjualan hanya sekitar 3000 per hari, seiring dengan makin banyaknya barang yang dijual omset berkembang menjadi 20.000 per hari, dan akhirnya terus dan menerus naik. Saat ditanya omset pada waktu sekarang ini, beliau hanya tersenyum dan berkata, “Wah rahasia perusahaan mas.”

Akhirnya pada tahun 1984, seluruh bangunan warung direhab hingga menjadi bangunan dua lantai. Seiring dengan peningkatan omset penjualan, akhirnya dibukalah berbagai cabang toko Pamella, yang mana setiap pembeli dilayani oleh pramuniaga.

Dalam setiap pembuatan cabang-cabang toko Pamella, Pak Sunardi dan Ibu Pamella selalu membuat survei kecil-kecilan. Mereka mendata jumlah penduduk di calon lokasi toko, kondisi sosial ekonominya dan mendata jumlah kendaraan yang lalu lalang di jalan depan lokasi calon toko. Dalam survey tersebut mereka juga berdiri dipinggir jalan dan menghitung jumlah kendaraan yang lalu lalang di depan lokasi calon toko, dengan survei itulah bisa diputuskan kelayakan pendirian toko.

Ada yang unik di toko ini, pada tahun 1993 Pamella sudah tidak lagi menjual rokok. Banyaknya iklan yang mengkampanyekan anti merokok dan desakan anak beliau akhirnya Pamella tidak menjual rokok lagi. Awalnya pamella sempat takut omset penjualannya menurun, tapi ternyata target yang penjualan toko tidak mengalami penurunan.

Semenjak Ibu Pamella mengikuti pelatihan di Departemen koperasi DIY pada tahun 1995, konsep toko diubah menjadi swalayan, jadi pembeli dapat memilih sendiri apa yang diinginkannya. Pamellapun berusaha memberikan layanan terbaik untuk pelanggan. Beliau memiliki prinsip,”Pelanggan tidak boleh menerima uang kembalian yang buruk,” tutur beliau.

Pada akhir wawancara, Ibu Pamella berpesan bagi kita, yang ingin menekuni dunia dagang, “Banyak belajar dari para pebisnis, karena bisnis harus punya pengalaman dan harus seimbang dunia dan akhiratnya,”. Ingin menjadi seperti bu pamella? Mari mencoba !

Suka buku? Punyakah komunitas yang memiliki kecintaan yang sama terhadap buku? Yap, banyak keuntungan jika kita memiliki komunitas, salah satunya kita bisa bertukar informasi tentang dunia buku. Nah, Kuntum berhasil mewawancarai sebuah komunitas pecinta buku sekolah yaitu MBL, organisasi di bawah perpustakaan MAN 3 Yogyakarta yang menjadi juara 1 perpustakaan terbaik tingkat Nasional tahun 2008.

Siang itu, Kuntum berkunjung ke Mayoga, pas saat itu, MBL mengadakan Bookaholic yang merupakan training untuk anggota MBL dalam rangka memperingati hari pendidikan nasional. Rencananya, kami akan bertemu dengan Presiden Rahayu (sebutan untuk ketua MBL, hehe) dan Pak Afif sebagai pembina MBL.

Sambil menunggu pak Afif yang sedang mengisi materi di Bookahilic, kami berbincang-bincang dengan Rahayu. Menurut siswi kelas XI yang biasa dipanggil Ai ai ini, MBL merupakan sebuah organisasi yang dibentuk karena adanya kecintaan siswa MAN 3 pada buku. “Saya masuk MBL ketika kelas X, saya tertarik dengan MBL karena banyak hal istimewa yang didapat anggota MBL, misalnya ketika siswa lain hanya boleh meminjam 2 buku di perpustakaan, anggota MBL diperbolehkan meminjan 4 buku, selain itu jika ada buku baru anggota MBL-lah yang diperbolehkan meminjam lebih awal, bahkan kami juga diajari dan praktek menjadi petugas perpustakaan,” kata Ai ai bangga.

Tak lama kemudian Pak Afif datang, dengan senyum ceria beliau bergabung dengan kami. Pak Afif sejak tahun 2006 sudah membina MBL. “Sebenarnya MBL ini sudah ada sejak tahun 2004, waktu itu ada beberapa siswa MAN 3 yang sangat cinta terhadap buku, mereka mengusulkan kepada perpustakaan sekolah untuk membuat sebuah komunitas pecinta buku. Nah, mulai dari situlah MBL berkembang. ‘geng’ kami awalnya tidak banyak kegiatan, tapi lama-lama dengan berbagai perbaikan disana-sini MBL mulai  berkembang,” tutur beliau.

Memang banyak sekali kegiatan yang dilakukan MBL, program kerja yang mereka buat mencapai 20 kegiatan dalam satu tahun. Bukanlah hal yng mudah untuk megerjakan semua program tersebut, hal ini karena MBL bukanlah ekstrakulikuler atau Dewa (sebutan untuk OSIS di Mayoga). “Pesonel kami susah sekali untuk kumpul rapat, kami sering curi-curi waktu, karena ekstrakulikuler di Mayoga udah full dari senin sampai Sabtu, tapi alhamdulillah teman-teman tetap antusias dan mendukung acara-acara kami,“ tutur Ai ai. Yap, MBL memang memiliki ‘pesona’ dimata siswa-siswa MAN 3, tak jarang walau rekruitmen anggota MBL sudah tutup, tapi masih banyak siswa Mayoga ingin masuk ke MBL. Ketika ada acara MBL, banyak guru ekstrakulikuler mengeluh, karena selalu saja ada siswanya yang ijin untuk mengikuti acara MBL.

Semangat teman-teman MBL memang patut diacungi keempat jempol kita. Satu bulan yang lalu, MBL mengadakan kegiatan kepenulisan yang dihadiri oleh penulis-penulis kondang  dan menargetkan peserta 100 orang, dengan promosi disana sini sampai berkunjung ke berbagai sekolah, akhirnya target peserta diluar perkiraan. Peserta mencapai 125 orang! Alhasil, aulapun tak mampu menampung para peserta. “Membludaknya peserta membuat kami kalang kabut, akhirnya mau tak mau peserta yang tidak kebagian tempat mengikuti pelatihan dari luar,” tutur pak Afif.

Saat ini anggota MBL ada 60 orang dengan berbagai divisi, melihat organisasi yang ‘gemuk’ ini, organisasi MBL ini akhirnya diurusi oleh belasan pengurus. Bedanya, pengurus yang mengorganisir segala kegiatan MBL, sedangkan anggota cukup mengikuti acara-acara MBL saja. Maklum, kegiatan MBL dibagi menjadi dua katagori, yaitu MBL untuk MBL dan MBL untuk semua siswa maupun umum. “ Walaupun pembina kami juga sibuk mengajar dan membina di sekolah-sekolah lain, kami tidak kekurangan perhatian dari beliau, segalakegiatan kami dipantau oleh beliau,” tutur Ai ai dengan halus.

Pak Afif dengan tertawa menjawab,” Ya iyalah mereka nggak kurang perhatian, maklum mereka sering ‘mengompasi’ (meminta ditraktir-red) saya, hehe”. Yap, dalam wawancara ini Pak Afif sering kali kali bercanda dengan kami, mungkin itu jugalah yang membuat teman-teman MBL ‘lengket’ dengan organisasi ini.

Pihak sekolahpun juga mendukung dengan adanya MBL,  “Saya sangat mendukung adanya MBL di sekolah, organisasi tersebut memang bagus untuk menumbuhkan motivasi membaca dan gerakan ‘iqro di kalangan siswa. Saya harap MBL lebih maju dan mandiri,” tutur kepala sekolah MAN 3, Bapak Mulyadi.

Yap, tak salah jika pembaca mengikuti jejak teman-teman MBL ini, tak hanya sukses secara intelektual tapi juga sukses menjadi calon event organizer, hehe….

Siang itu begitu terik, reporter Kuntum berhenti sejenak di sebuah Museum Batik dan Sulaman yang berlokasi di Jl. Sutomo 13 Yogyakarta. Didepan museum terlihat pohon jambu air yang sedang berbuah, hm… begitu menggugah selera. Ketika kami masuk, didepan kami langsung terlihat berbagai sulaman yang terdiri dari wajah-wajah tokoh nasional, pemandangan dan aneka rupa tentang perbatikan, kami disambut seorang penjaga museum dan seorang ibu yang sudah tua.

Ternyata pemilik Museum Batik adalah ibu yang sudah tua tersebut, nama beliau Ibu Dewi. Walau kini usianya 78 tahun, beliau masih terlihat begitu segar meski harus memakai krak untuk berjalan.

Deretan sulaman yang berjejer diatas dinding museum begitu menyerupai gambar aslinya, bahkan awalnya penulis mengira bahwa sulaman itu merupakan foto. “Semua sulaman yang ada disini adalah sulaman saya. Kegiatan menyulam saya lakukan sejak suami saya sakit stroke, kira-kira itu tahun,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, karena pekerjaan saya hanya menunggu suami, maka saya berinisiatif untuk menyulam. Ya, awalnya sih tidak beraturan, tapi karena sering berlatih, saya menjadi bisa. Sulaman itu saya namakan sulaman acak, karena saya tidak melaksanakan aturan menyulam,” tuturnya. Memang sulaman ibu Dewi terlihat acak, sehingga bagian rambut, wajah dan lainnya terlihat begitu asli.”Saya memakai banyak benang untuk menyulam, saya ingin menyerupai aslinya,”tutur ibunya.

Awal berdirinya museum batik dan sulaman tidak terlepas dari tangan besi Ibu Dewi. Ketika jaman penjajahan Belanda (Sekitar tahun 1800an), berdirilah sebuah perusahaan batik yang terletak di daerah Kauman. Perusahaan tersebut memproduksi kain batik alami yang pengerjaannya masih menggunakan canting. Setelah nenek tiada, perusahaan dialihkan ke orangtua Ibu Dewi. Perusahaan itu akhirnya tutup karena tidak bisa mengikuti perkembangan jaman. Waktu itu Ibu Dewi masih muda. Ibunya Dewi muda akhirnya menyerahkan semua peninggalan nenek untuk dirawat Dewi, karena dari ketujuh anaknya, hanya Dewilah yang dianggap paling bisa merawat batik-batik beserta peralatan-peralatan pembuat batik.

Dewi yang merasa diamanahi segera mengumpulkan barang-barang batik peninggalan neneknya yang kini sudah bececeran dimana-mana.”Kebanyakan batik berada ditangan saudara-saudara. Waktu itu kondisi batiknya mengenaskan, ada yang sampai dibuat lap, padahal nilainya berharga. Jika ada barang-barang nenek segera saya minta, jika tidak terpaksa saya beli,” tutur Ibu Dewi yang terlihat masih energik di usianya yang lebih dari 2/3 abad.

Setelah semuanya terkumpul, mulai dari canting sampai batiknya, saya dibantu oleh suami segera merencanakan pembuatan museum. Tanggal 18 Mei ………. Museum ini berdiri. Lalu disusul dengan sulaman-sulaman saya,” ujarnya.

Ya, sampai saat ini beliau masih menyulam dan membatik,”Saya menyulam dan membatik jika ada mood, jika tidak, pasti sulaman dan batik tidak akan jadi dan kelihatan tidak bagus”.tuturnya. Walau dibeli dengan harga berapapun, sulamannya tidak akan dijual. “Saya sudah bersusah payah membuatnya, ada sulaman yang mencapai waktu 3 tahun untuk membuatnya, sehingga saya tidak rela jika sulaman tersebut harus dijual,”tuturnya. Tak heran jika kini sulaman Ibu Dewi begitu banyak dan membuat Muri menobatkan Museum Ibu Dewi menjadi Museum Sulaman satu-satunya di Indonesia, bahkan mungkin di dunia.

Walau sudah tua, saat ini Ibu Dewi masih saja mengembangkan batik. Beliau mencoba berbagai tekhnik agar warna batik yang sintetis (berbahan kimia) dan yang alami bisa menyatu.”Saya ingin menyatukannya……………………. Sudah bermacam-macam cara saya lakukan. Tapi sampai sekarang belum berhasil. Doakan saja suatu saat bisa terwujud,” harapnya.

Selain membuka museum batik, Ibu Dewi juga kreatif. Rumah yang terletak di sebelah museumnya dijadikan ruang pertemuan yang disewakan, tak lupa dia juga membagi ilmu menyulam dan membatiknya dengan membuka kursus yang dibantu oleh rekan-rekan ibu Dewi. Kursus tersebut dibuka mulai dari TK sampai dewasa. Dengan membayar Rp. 25.000,- kita diajari mulai dari awal, bagaimana memegang canting sampai mewarnai batik. Puas deh, hehe…

Oke, bagi yang ingin mengetahui lebih dalam tentang batik, silakan datang ke museum. Dengan membayar uang Rp. 15.000, pembaca bisa menikmati batik-batik yang sudah berumur ratusan tahun yang lalu beserta alat, dan nilai plusnya nih, pembaca bisa mendapatkan banyak penjelasan oleh petugas museumnya.

Atau bila ingin bertemu langsung dengan Ibu Dewi untuk sekedar berbagi informasi, silakan datang ke Museum, pasti Ibu Dewi menerima dengan tangan terbuka. Mari menyulam dan membatik…..

Pemilu legislatif (pileg) telah usai. Pemilihan presiden kini sudah didepan mata. Menengok pileg yang lalu, banyak kekisruhan terjadi, sebut saja money politic, kotak suara yang tidak terkunci, penggelembungan suara dan ketidakakuratan daftar pemilih tetap, alias DPT. KPU memang sudah bekerja dengan maksimal, namun patut disayangkan, masih banyak kesalahan dalam pendataan, seperti kepemilikan DPT ganda, orang meninggal tapi masuk DPT dan tidak tercantumnya warga dalam DPT.
Menurut Rektor Indonesia (2009), ketidakakuratan daftar pemilih tetap (DPT) menyebabkan 30% warga Indonesia tidak dapat memilih. Banyak partai maupun caleg kecewa karena pemilih potensialnya berkurang. Alhasil, 19 Parpol kecil mengajukan sengketa DPT ke Mahkamah Konstitusi.
19 Partai itu mengajukan permohonan atas sengketa kewenangan lembaga negara antara presiden RI cq Mendagri dan KPU terkait daftar pemilih tetap (DPT) dalam Pemilu Legislatif 2009. Partai itu adalah Partai Buruh, Patriot, Partai Pengusaha Peduli Indonesia, Partai Serikat Indonesia, Partai Merdeka, PKNU, Pakar Pangan, PDS, PPRN, Barisan Nasional, PPD, PPI, PNI Marhaenisme, PDP, PBR, PKDI, PIS, PDK, dan PPNU Indonesia. Pemerintahpun angkat tangan dalam urusan DPT, hal ini karena kepengurusan DPT adalah kewenangan KPU dan pemerintah tidak ikut campur tangan dalam masalah ini.
Kini pemilu presiden semakin dekat, 9 April 2009 merupakan waktu yang tak lama lagi. Permasalahan DPT sebenarnya menjadi evaluasi kita bersama, kenapa?
Pertama. Data pemerintah, yaitu data dari Departemen Dalam Negri tidak akurat. Banyak warga yang memiliki KTP ganda yang menyebabkan data DPT kacau. Jika pemerintah dapat membuat sistem single identity mungkin permasalahan DPT tidak separah sekarang ini, dengan sistem single identity warga hanya memiliki satu identitas tapi bisa untuk mengurus apa pun, satu identitas yang menjadi kode tiap warga negara untuk melakukan kewajiban dan menuntut haknya kepada negara.
Kedua. KPU tidak mengecek kondisi di lapangan. KPU berasumsi bahwa data Departemen Dalam Negri benar, padahal sudah diketahui bersama bahwa DPT kacau.
Ketiga. Masyarakat kurang proaktif melihat DPT pileg, sehingga baru protes ketika DPT sudah ada.
Keempat. Partai politik kurang memperhatikan keakuratan DPT. Kesibukan luar biasa untuk menarik massa membuat atensi partai politik berkurang dalam mengamati akurasi DPT.
Menjelang pemilihan presiden ini, KPU sebagai lembaga yang bertanggungjawab atas kelangsungan pemilihan presiden dapat melakukan berbagai cara untuk memutakhirkan data DPT. Kerjasama dengan Rt/Rw sangat diperlukan karena mereka merupakan garda depan yang mengetahui kondisi real masyarakat. Pengawasan di KPU dengan sistem check and balance harus diterapkan dengan ketat, agar tak salah lagi mendata DPT.
Adanya sebagian masyarakat yang menginginkan pemboikotan pemilu bukanlah solusi yang apik, pasalnya, jika pemilu dibokot, bisa jadi Indonesia menjadi negara kisruh seperti yang terjadi di Thailand. Kestablian negarapun menjadi taruhannya.
Sebaiknya, mari setiap pihak aktif dalam DPT ini. Tidak perlu saling menyalahkan, KPU segera mengkoordinir dan mensosialisasikan DPT, serta masyarakatpun ikut aktif dengan segera mengecek keberadaannya di DPT. Semoga dengan Pemilu lancar, negara akan tentram. Amien.

Di zaman globalisasi ini, banyak hal yang menjadi masalah di berbagai negara, salah satunya adalah narkoba. Masalah ini kian pelik karena peredarannya kini merambah di dunia pelajar yang merupakan tunas harapan bangsa.

Banyak hal yang menyebabkan pelajar menggunakan narkoba, menurut Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat), banyak alasan praktis yang menyebabkan orang menggunaan narkoba, yaitu untuk merubah perasaan yang sedih menjadi gembira, mengatasi penyakit, melarikan diri dari rasa bosan dan putus asa, meningkatkan interaksi sosial dan meningkatkan pengalaman sensasional atau menyenangkan.

Memang efek yang ditimbulkan narkoba awalnya memang menyenangkan, contohnya saja putau, jenis ini jika dikonsumsi akan membuat pemakainya tiba-tiba bahagia, namun setelah obat ini selesai digunakan, pengguna akan merasakan sakau, yaitu rasa sakit yang timbul setelah pemakaian, diantaranya yaitu rasa gelisah, timbulnya keringat dingin, menggigil, tulang serasa akan patah, ngilu, mual-mual, hidung berair, perut sakit, tulang-tulang serasa ngilu, keringat keluar tidak wajar, pupil mata membesar , diare, tidak bisa tidur (insomnia) dan gampang terpancing untuk berkelahi. Sakau ini akan berhenti dengan satu jalan, yaitu memakai putau lebih banyak lagi. Alhasil, jika terus menerus mengkonsumsi putau organ-organ tubuh rusak, terutama hati mengeras, ginjal juga rusak, bisa sewaktu-waktu mati karena keracunan dan overdosis.

Menghindari penyebaran narkoba yang lebih luas lagi, banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencegahnya, salah satunya adalah lebih mengintensifkan peran teman sebaya. Menurut data yang dihimpun Gerakan Anti Narkoba (Granat), 63 % penyalahguna narkoba pertama kali menyalahgunakannya pada umur 15 sampai 24 tahun dan 1 diantara 10 penyalahguna narkoba pertama kali memakai pada umur kurang dari 15 tahun. Melihat data tersebut, cara pencegahan yang cukup efektif adalah peer helper.

Sebelum memasuki usia remaja, orangtua memiliki pengaruh yang kuat pada anak, namun pada masa remaja pengaruh tersebut diambil alih oleh teman, hal ini karena dalam keseharian, teman sebayalah yang sering berinteraksi, adanya kesamaan hobi dan aktivitas dapat merekatkan hubungan itu, biasanya nasehat sesama teman lebih komunikatif, tanpa kendala bahasa serta tanpa menggurui sehingga remaja akan lebih percaya dan mengikuti apa yang dikatakan temannya.

Peran teman sebaya akan lebih berkembang lagi jika di dalam sekolah dan masyarakat terdapat organisasi, bisa ekstrakulikuler maupun karang taruna. Semakin intensif organisasi tersebut, pencegahan akan narkoba akan semakin baik, karena dengan berorganisasi teman sebaya akan menjadi motivator dan inisiator yang baik agar tidak terjadi penyalahgunaan narkoba.

Namun di sisi lain, peran teman sebaya tidaklah efektif bila tanpa pengetahuan yang cukup tentang masalah narkoba. Sekolah hendaknya memberikan ilmu kepada siswanya mengenai narkoba dan bahayanya, sehingga siswa memiliki bekal yang cukup untuk tidak menggunakan narkoba.

Menurut Granat (2006), gagalnya penanganan masalah narkoba selama ini karena banyak faktor, seperti tidak adanya kerangka kerja yang berdasarkan penelitian empiris, sehingga pencegahan yang dilakukan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada dan juga persepsi masyarakat yang belum menganggap narkoba sebagai permasalahan. Perlu kiranya dukungan semua pihak agar narkoba ini tidak semakin merebak di pelajar kita dan pelajar kita lebih berani untuk mengatakan “tidak” untuk narkoba.


  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

Kategori

Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.